The Dog Who Dared To Dream

by - December 17, 2017

Judul : The Dog Who Dared to Dream
Penulis : Hwang Sun Mi
Penerbit : Little Brown, UK



"Pada suatu masa di sebuah tempat yang selalu dipenuhi salju saat musim dingin, hiduplah seekor anjing kecil yang punya mimpi-mimpi sederhana"

Awalnya saya kira buku ini akan diawali dengan kalimat tersebut. Tetapi teriakan dan keluhan seorang lelaki tua justru menjadi bagian dari bab pembukanya. Kemudian mengalirlah cerita tentang lelaki tua itu dan Scraggly, peliharaannya.

Scraggly, seekor anjing kecil yang lahir berbeda dari saudara-saudaranya. Berbulu gelap, nyaris hitam, berbadan kecil yang termasuk ringkih. Belakangan saya tahu, bulunya berpendar biru apabila terkena pancaran sinar rembulan. Menjadikannya istimewa.

Scraggly hidup bersama keluarga Kakek Screecher, di sebuah desa di daerah pegunungan Korea yang diselimuti salju pada musim dingin. Musim dingin berbuat sesuatu pada mereka, membuat Scraggly memiliki mimpi-mimpi sederhana yang menurut Kucing Tua tidak patut dimiliki seekor anjing.

Musim dingin pertama Scraggly merenggut nyawa adik bungsunya karena ulah si Kucing Tua. Scraggly memahami rantai yang menahan leher ibunya, membuatnya kehilangan si bungsu karena terlambat diselamatkan. Kemudian musim dingin juga merenggut ibu dan saudaranya yang lain karena ulah pencuri yang memasuki rumah Kakek Screecher. Scraggly belajar bahwa makanan yang diberikan orang asing, harus diwaspadai, lalu dia juga menyesal tidak mampu menggigit dengan kuat si pencuri untuk menyelamatkan saudara-saudara dan ibunya.

Memasuki berikutnya, Scraggly hampir mati karena anjing liar di lingkungan mereka. Namun musim dingin itu pula Scraggly bertemu si Putih, hingga akhirnya dia melahirkan anak-anaknya sendiri. Scraggly pun memiliki mimpi sederhana, ia ingin hidup bersama anak-anaknya. Tetapi ternyata musim dingin selanjutnya dia harus dipisahkan dari anaknya, Scraggly tidak punya pilihan. Tregedi demi tragedi terjadi, di musim dingin. Scraggly menumbuhkan mimpinya, tetapi juga tak bisa berbuat apa-apa ketika mimpinya hancur.

Saya tidak terlalu paham mengapa penulisnya memilih musim dingin sebagai momentum penting dalam kehidupan Scraggly. Apakah musim dingin yang menggigit dimaksudkan untuk menambah suasana sedih dan terluka yang dialami oleh Scraggly, atau musim dingin yang putih memang cocok untuk menggambarkan kontras warna antara Scraggly dan salju? Tetapi yang jelas musim dingin yang digunakan untuk latar cerita mampu membuat saya setiap tragedi yang dialami Scraggly dengan nyata, juga merasakan kehangatan ketika Scraggly mendapatkan sup atau makanan hangat untuk perutnya termasuk perasaan hangat ketika si Kucing Tua ternyata menjadi sahabat terbaik Scraggly meskipun selalu bermulut pedas.

Penulisnya pun menggunakan kata ganti 'Who' untuk Scraggly pada judulnya. Menunjukkan bahwa Scraggly bukan hanya sebuah benda, tetapi 'memanusiakan' Scraggly. Sehingga mimpi-mimpi dan perasaan yang dimiliki Scraggly terasa sangat wajar. Hal ini membuat pembaca menjadi gampang tersentuh pada setiap peristiwa yang dialami oleh Scraggly. Tentu saja ini bisa jadi pendukung untuk gerakan animal welfare. Bahwa hewan adalah makhluk hidup yang juga layak mendapatkan kesejahteraan, terhindar dari kekerasan, dan tidak boleh diperlakukan sebagai sebuah obyek. Meskipun penggambaran hubungan Kakek Schreecher dan Scraggly masih berubah-ubah. Kakek Screecher menganggap Scraggly sebagai obyek dan subyek pada saat bersamaan. Bukan hal buruk, justru hal ini sangat wajar karena manusia pun saat ini tidak ada yang benar-benar menganggap hewan sebagai subyek yang memiliki kebutuhan 'setara' dengan manusia.

Tidak ada plot klimaks menurut saya, penulisnya menceritakan kehidupan Scraggly secara wajar. Kakek Screecher bertambah usia, Scraggly pun bertambah usia. Kakek Screecher tak bisa lagi memberikan perhatian utuh, Scraggly pun terabaikan secara wajar. Kakek Screecher kehilangan masa-masa indah hidupnya, Scraggly pun kehilangan semua yang pernah dimilikinya. Wajar. Tanpa dramatisir.

Buku ini salah satu yang membuat saya menghela napas panjang setelah selesai membacanya. Alur cerita yang sederhana dan sangat wajar justru membuat saya memikirkan banyak hal yang pernah terjadi dalam hidup. Salah satu buku yang menggelitik saya, menyadarkan bahwa hal sederhana bisa menjadi istimewa apabila diceritakan dengan baik. Buku ini juga meyakinkan saya bahwa saya bersyukur telah mengadopsi hewan, meskipun hanya satu ekor. Menyediakan rumah dan makanan yang cukup bagi hewan ini, membuat hati saya penuh. Semoga Scraggly-Scraggly di luar sana bisa merasakah kehangatan hati yang sama seperti kucing saya di rumah.

You May Also Like

0 comments