A Step

  • September 19, 2017
  • By Sevy Kusdianita
  • 0 Comments



Salah satu langkah, menuju mimpi-mimpi yang lain. Yang saya tahu, doa-doa orang tua saya sedang di-ijabah.

Saya memiliki mimpi menjadi editor setelah membaca hal-hal yang dibagi Windy Ariestanty, former Editor in Chief di Gagas Media dan Bukune, tentang editor dan pekerjaan editing. Windy juga yang mengenalkan saya pada sosok Mula Harahap dan impian-impiannya untuk literasi Indonesia.

Membuktikan sendiri perkataan Windy tentang masih awamnya profesi ini di sekitar, saya pun dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tentang pilihan profesi ini. "Editor? Apa itu?" atau "Yang kerjaannya ngedit typo?" atau "Jauh-jauh S2, kerja jadi editor? ngedit kesalahan cetak?" dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Saya sih cuma ketawa mendengarnya. Kalau lagi baik, saya menjelaskan. Tetapi kalau lagi malas, saya cuma berlalu.

Bagi orang lain, pekerjaan editor adalah pekerjaan sepele. Tetapi saya menganggap profesi ini keren. Bagaimana tidak keren? Jika nasib sebuah naskah dan mungkin juga penulis ada di tanganmu. Tanggung jawab besar, beban moral besar. Menjadi editor, menjadi yang dibalik layar. Kata Windy, editor adalah yang pertama bertepuk tangan ketika sebuah naskah selesai ditulis dan menjadi yang pertama bersedih ketika kemampuan menulismu tidak mengalami perbaikan. Kalau boleh saya tambahkan, editor juga akan menjadi orang pertama yang senang ketika bukumu laris di pasar, dan akan menjadi orang pertama yang sedih ketika bukumu tidak diminati.

Sebuah buku selalu ada campur tangan editor, jadi ketika buku tidak diminati maka tak jarang editor juga merasa gagal. Ini hal yang saya takutkan. Meskipun kita harus tahu rasanya gagal, tetapi saya masih takut ketika harus menghadapi hal itu. Karena itu bagi saya rasa saling percaya yang tinggi antara editor dan penulis menjadi faktor penting. Mereka harus saling menguatkan ketika jatuh, dan mungkin bisa menari bersama ketika berhasil.

Saya banyak belajar dari penulis-penulis yang saya temui beberapa bulan pertama ini. Dari mereka saya belajar tentang proses yang panjang dan panjang. Dari mereka juga saya meningkatkan kualitas diri dan kemampuan.

Menyesalkan? Tidak. Saya masih ingin jadi editor untuk beberapa tahun ke depan. Mungkin tahun ini saya berada di tempat yang sekarang, tetapi tidak menutup kemungkinan saya akan berpindah. Meningkatkan kemampuan diri, meningkatkan kualitas diri. Bukankah manusia perlu berpindah agar bisa meningkatkan kualitas?

Saya sedang menikmati hidup. Saya sedang bahagia.




You Might Also Like

0 comments