Genius

by - July 30, 2017




Saya jarang mengulas tentang film. Mungkin bahkan tidak pernah selama beberapa tahun terakhir. Kali ini saya membagikan pengalaman menonton Genius. Colin Firth, Jude Law, dan Nicole Kidman masih menjadi aktor dan aktris favorit. Saya jatuh cinta pada akting Colin Firth ketika dia membintangi serial Pride and Prejudice versi BBC, sampai saat ini saya selalu menikmati dengan baik aktingnya di beberapa film. Di film Genius pun Colin Firth juga memukau saya dengan karakternya sebagai Maxwell Perkins, seorang editor yang menemukan Hemingway, Fitzgerald, dan Wolfe.
Film ini sudah saya lirik sejak akhir tahun lalu, hanya saja saya masih ragu menontonnya. Hingga kemaren seorang penulis sekaligus teman saya merekomendasikan film ini setelah saya berujar sesuatu kepadanya tentang pekerjaan saya. Saya pun menonton film ini.
Patah hati. Perasaan yang pertama kali muncul dalam diri saya. Wajar saja, karena saya merelasikan alur cerita dengan kehidupan nyata. Sama seperti Perkins, saya seorang editor meskipun masih seumur jagung. Saya tidak bisa membandingkan pencapaian Perkins dengan apa yang baru saya mulai dalam kehidupan saya. Tetapi saya bisa merelasikan bagaimana Perkins patah hati ketika penulis-penulisnya tidak mampu lagi menuliskan satu kalimat pun. Atau ketika penulisnya terlalu jumawa dengan nama besar yang berhasil dicapai.
Perkins selalu bisa menemukan batu yang dia percaya akan bersinar. Dia memoles batu itu, hingga menjadi permata. Kadang Perkins sadar permata itu akan berpindah tangan, tetapi kadang dia juga naif bahwa permata itu akan selalu berada di genggamannya. Saya akui bahwa saya pun pernah sangat naif. Percaya bahwa seseorang yang saya temani ketika berada di masa sulit, akan ada bersama saya ketika dia sudah menjadi besar. Kenyataannya berbalik 180 derajat dari yang saya percaya. Karena itu saya pun patah hati.
Pekerjaan editor hanyalah menemani proses penulis untuk sebuah buku. Menyediakan sarana dan sedikit polesan untuk diantarkan kepada pembaca. Seperti kata Perkins, buku akan selalu menjadi milik penulis, editor hanya bertugas mengantarkannya kepada pembaca. Editor tidak perlu kredit untuk setiap proses kreatif penulis, pembaca yang mengulas dengan baik dan mengkritik dengan kritis sudah cukup.  Jauh sebelum saya memahami ini, sepertinya saya telah belajar tentang hal ini. Menemani seseorang hingga sampai puncak lalu berdiri dibawah sambil tersenyum puas, tak peduli jika ia tak memperhatikan kalau saya telah berbalik pergi.
Saya masih perlu banyak belajar untuk melepaskan. Seperti Perkins yang merelakan Fitzgerald untuk tidak menuliskan kata-kata lagi. Atau seperti ketika Perkins merelakan Wolfe pergi untuk selamanya ketika ia sedang berada di puncak.
Tampaknya saya menemukan padanan kata baru untuk editor. Editor sama dengan melepaskan.

You May Also Like

0 comments