Senin Pagi

by - October 10, 2016

I want to wander, not to feel the joy or the pain. But to understanding.
Pagi ini saya dikejutkan oleh notifikasi email dari seorang teman baik. Subyek emailnya membuat saya penasaran, tentang sebuah dunia yang dekat namun begitu jauh. Tentang ide yang hidu didalamnya, yang membuatnya seakan tak bisa terjangkau. Sebuah vlog dari seorang pelaku perjalanan yang membuat saya tertegun sekaligus iri. Saya tertegun dengan keberaniannya, tentu saja tentang mengambil resiko serta penghakimannya yang 'polos' namun membuat hampir siapa pun menyetujuinya. Kemudian saya juga iri, karena dia bisa menjajak dunia itu lalu bercerita kepada dunia tentang semua yang dialaminya di dunia itu.



Bagi saya, Korea Utara sudah berada di satu tempat istimewa di hati saya. Bagaimana tidak menjadi istimewa, kalau negara ini telah mengantarkan saya menuju jenjang lebih jauh dalam hidup saya? Korea Utara menjadi salah satu 'pintu' yang membawa saya kepada pilihan-pilihan hidup berikutnya, yang membuat saya sampai pada titik saat ini. Korea Utara juga meluruhkan segala penghakiman saya terhadap segala hal yang dianggap berbeda, membuat saya lebih bisa memahami daripada menghakimi secara tidak adil.

Video blog berdurasi sekitar empat belas menit tersebut dibuat oleh Jacob Laukaitis (kalian bisa mencarinya di laman youtube untuk mengikuti cerita perjalanannya), saat berkunjung ke Korea Utara. Tidak mudah mengunjungi negara yang cenderung menutup diri dari dunia, diperlukan izin yang cukup sulit prosesnya untuk mendapatkannya, diperlukan himbauan yang harus berkali-kali diulang agar tidak melakukan kesalahan, dan menekan segala bentuk rasa penasaran berlebihan yang bisa membuat diri celaka. Jacon Laukaitis berhasil memenuhi aturan-aturan itu sehingga saya bisa menikmati ceritanya.

Saya rasa ketika orang bilang 'waktu terasa berhenti' di Korea Utara, rasanya saya tidak melihat itu di video blog ini. Semua orang bergerak maju di negara ini, hanya saja cara mereka bergerak maju tidak sama dengan cara kita atau cara masyarakat lain di belahan dunia lainnya di bumi. Mereka telah mengizinkan turis berambut pirang dan bermata biru untuk berkunjung ke negara mereka, tentu saja dengan aturan-aturan yang mengikat. Saya rasa aturan itu pun dibuat bukan untuk membatasi diri terhadap dunia luar, tetapi untuk menunjukkan identitas mereka kepada dunia. Bahwa mereka punya nilai-nilai yang diyakini, dan cara hidup yang cocok dengan identitas mereka. Sama seperti kita yang memiliki prinsip atau aturan-aturan yang kita buat sendiri untuk menunjukkan identitas kita pada orang-orang di sekitar kita. 

Korea Utara mengalami banyak hal untuk bisa sampai pada kehidupaan saat ini, tentu saja dengan cara mereka. Jika beberapa negara lain memilih untuk berjalan di ide yang sama, Korea Utara memilih untuk tetap mengikuti ide yang dipilih dan disusunnya sendiri. Jika ada beberapa yang menganggap apa yang terjadi di Korea Utara adalah karena ambisi pemimpinnya, sebaiknya saya mulai membuka lagi catatan lama lalu menganalisanya lagi. Jika sebagian besar menganggap hal itu melanggar Hak Asasi Manusia, tampaknya perlu dibuka lagi tentang asal definisi hak asasi manusia. Karena saya meyakini definisi itu bisa berbeda tergantung pada latar belakang tempat, kondisi, dan budaya. Saya tidak ingin memberikan penghakiman apa pun pada apa yang terjadi, bukan berarti saya tidak punya empati. Saya hanya ingin memahami untuk apa yang mereka pilih, dan saya rasa hal itu akan memunculkan pesonanya sendiri. 

You May Also Like

0 comments