Cerita Tentang Bioskop di Ujung Benua Lain

by - October 07, 2016

Pengalaman menonton yang paling berkesan adalah ketika keluar dari zona nyamanmu untuk masuk ke zona nyaman orang lain - Sevy Kusdianita

Penghujung tahun 2014, lebih tepatnya bulan November tahun 2014, waktu itu Christoper Nolan (sutradara Dark Knight Series, yang menjadi film superhero favorit saya sepanjang hidup) melakukan meluncurkan hasil kerja terbarunya, Interstellar. Tentu saja saya yang pada waktu itu sedang berada di belahan dunia lain tak ingin ketinggalan menonton. Saya membujuk beberapa teman yang tidak hobi nonton untuk menemani hasrat saya itu. Alhasil, mereka pun bersedia ikut menonton bersama saya.

Sebenarnya saya tidak ingat tanggal berapa dan jam berapa kami menonton Interstellar. Saya hanya ingat di mana kami menonton pada saat itu. Cinema Stars yang berada di pusat perbelanjaan bernama City Stars di salah satu distrik di Kairo bernama Nasr City, adalah tempat saya dan kelima teman saya menonton Interstellar. Beruntunglah saya masih menyimpan foto tiket bioskop yang sudah lusuh yang menunjukkan studio, tanggal, waktu, dan nomor kursi. Saya pun masih menyimpan tiket itu di buku kenangan saya.

Bagian depan tiket Cinema Strars, entahlah itu tulisan Arab artinya apa



kalau ini bagian belakang yang memberitahukan tanggal,waktu, studio, dan nomor kursi


Karena masih berselang seminggu dari tanggal rilis Interstellar di Amerika Serikat, maka pengunjung yang menonton film ini cukup banyak. Saya melihat hampir seluruh kursi di Studio 1 Cinema Stars ada pemiliknya pada waktu itu. Ketika film dimulai, maka petualangan saya di studio 1 itu pun juga dimulai.

Saya tidak akan menceritakan tentang alur cerita Interstellar atau mengomentari hasil kerja Christoper Nolan. Tidak, saya masih belum punya kapasitas untuk itu, saya hanya penikmat film yang menilai berdasarkan preferensi saya saja. Kali ini saya akan bercerita tentang apa yang saya alami ketika menonton film di belahan dunia lain.

Ada subtitle berbahasa Perancis dan Arab ketika layar menayangkan adegan pertama, dan masih ada riuh rendah orang mengobrol bahkan ketika lampu dimatikan supaya gambar di layar lebih fokus. Duh, mati! saya langsung mengumpat dalam hati. Arda, teman sekelas saya yang berasal dari Semarang pun langsung bertanya pada saya, "Mbak, sampeyan ngerti?" Dia merujuk pada teks Bahasa Arab dan Perancis yang muncul.
"Aku ora paham subtitle-nya," jawabku. "Moga-moga aja paham filmnya." Ya, semoga saya paham alur film yang menjadikan ilmu fisika sebagai bagian besar dalam alur ceritanya.

Selang beberapa saat sejak film di mulai, saya masih saja mendengar ada beberapa orang yang berbicara. Perlu diketahui, bagi beberapa orang, nonton di bioskop adalah sebuah ritual suci. Mereka sangat mengagungkan sebuah ruang bioskop yang bebas dari suara obrolan orang, pantulan cahaya LCD smartphone, dan kursi yang tenang tanpa adanya dorongan-dorongan kaki dari penonton dibelakang. Di tempat ini, jangan harap bisa menemui para pengikut ritual suci tersebut. Alih - alih menonton dengan tenang, suara orang bercakap-cakap sampai suara orang membuka bungkus plastik makanan ringan bisa didengarkan bersamaan dengan suara yang muncul dari film. It was annoyed me for a while, but then I was fascinated.

Ya, awalnya menjengkelkan nonton bersama orang-orang berisik. Tidak bisa konsentrasi, dan kesulitan memahami tiap adegan karena keterbatasan pengetahuan dan bahasa yang saya punya. Tetapi secara bersamaan ada hal lain yang membuat saya terkejut kemudian tersenyum. Ketika alur film mencapai bagian tengah, tiba-tiba saja layarnya berhenti kemudian lampu bioskop menyala. Awalnya saya mengira ada kerusakan, saya melihat orang-orang di sekitar saya sebagian beranjak dari tempat duduknya sebagian lagi keluar ruangan. Saya dan teman-teman kebingungan dengan situasi ini. Tetapi kemudian saya teringat suatu fakta yang mirip dengan keadaan ini. Ketika bioskop di Indonesia belum memasuki era modern, film yang diputar akan dihentikan ditengah alur cerita untuk 'istirahat'. Penonton diperbolehkan keluar ruangan untuk ke toilet atau membeli makanan. Akhirnya saya tertawa, sampai teman-teman saya kebingungan. Saya pun menjelaskan kepada mereka tentang ingatan saya itu dan menghubungkannya dengan situasi yang kami alami. Mereka ikut tertawa bersama saya.

Sekitar lima menit kemudian, lampu bioskop dimatikan kembali. Film di layar kembali di putar. Saya pun menikmati sisa film dengan baik, masih bersama suara percakapan orang-orang di sekitar saya.



You May Also Like

0 comments