Hujan dan Sepatu Lari

by - September 15, 2016

Klik, adalah yang pertama kali saya dengar di kepala saya ketika salah seorang teman mengirimkan foto sepatu lari yang dikenakannya dengan latar belakang rintik hujan. Habis lari, katanya ketika saya menanyakan sedang apa kepadanya. Melihat rintik hujan dan sepatu lari warna hitam dengan kombinasi warna hijau neon itu membuat saya ingin menceritakan sesuatu.

Saya seseorang yang tidak menyukai hujan, tetapi saya selalu merindukan hujan. Katakanlah saya terjebak love-hate relationship bersama hujan. It' was tiring, very tiring. Karena saya memakai perbandingan itu untuk menggambarkan love-hate relationship sepihak yang saya rasakan terhadap suatu hal dan juga seseorang.

It was tiring. Yes, it was. Ketika saya tidak tahu caranya menari bersama hujan, dan tidak tahu caranya menikmati gejolak perasaan yang naik, turun, serta memutar seperti roller coaster. It was tiring, ketika saya belum bisa bernegosiasi dengan perasaan saya dan penghakiman-penghakiman yang ditujukan kepada saya kala itu.

Melihat sepatu lari yang ia kenakan dengan latar belakang rintik hujan, membuat saya merindukannya sekaligus membuat saya mengingat bagaimana saya bisa berdamai dengan semua hal yang melelahkan itu. Time will heal everything, and it's work for me. Love-hate relationship  yang saya alami sudah menghilang. Namun ada yang tersisa dari itu, yakni cherish. Ya, I cherish the rain, I cherish him, and I cherish my self.

Saya menikmati rintik hujan yang jatuh ke dahi saya saat menengadahkan kepala, ketika saya sudah belajar bahwa hujan menghapus panas dan debu seharian. Seperti hujan yang meluruhkan lelah dan jengah yang saya alami seharian. Saya menikmati setiap percakapan jarak dekat maupun jarak jauh tanpa berharap apa pun kecuali pertemuan kembali untuk menceritakan kembali tentang apa pun yang kami lewatkan secara terpisah. Saya menghargai setiap hadirnya, dan setiap usahanya untuk mempertahankan ikatan yang terbentuk antara saya dengan dirinya. Karena saya tahu, akan sangat bodoh sekali apabila apa yang kami bangun selama ini hancur karena keegoisan salah satu diantara kami.

Saya sudah memutuskan untuk tidak lagi berpura-pura bahwa saya memiliki perasaan untuk dirinya, keputusan itu sudah lama dibuat dan saya menemukan diri saya membaik ketika mengakui hal itu. Ketika dia membaca tulisan ini nanti, saya berharap dia tidak lari. Saya harap dia akan memuji saya karena keberanian saya, dan belajar untuk melewati ini dengan baik tanpa merusak apa pun. Karena saya yakin, dia mampu mengataasi hal ini dengan baik seperti saya. Karena saya pun yakin, dia bisa menari bersama hujan seperti yang selalu saya lihat dari dirinya selama ini. Karena menikmati hujan akan selalu lebih baik daripada harus menggertutu. Karena penerimaan akan suatu keadaan akan selalu lebih baik daripada melakukan penolakan yang sia-sia bukan?

Thanks for the picture, memories, and lesson


You May Also Like

0 comments