Yogyakarta: First Solo Trip

by - August 22, 2014


Jika tidak menemukan keberanian, maka aku tidak pernah melihat dunia

Saya baru saja membaca artikel yang menarik dari worldofwonderlust.com tentang solo trip. Kemudian saya membuka kotak memori melalui ‘buku kenangan’ yang berisi segala macam bukti kesenangan (termasuk tiket kereta, tiket masuk tempat wisata, hingga tiket bioskop), mengingat apakah saya pernah melakukan solo trip atau belum. Thanks God! Saya pernah melakukan solo trip. Bukan ke luar negeri atau luar pulau seperti traveler sejati lainnya. Saya ‘hanya’ mengunjungi Yogyakarta, sebuah kota istimewa sesuai namanya.
Solo trip pertama saya terjadi pada bulan April 2012 selama 4 hari. Mungkin akan memalukan jika saya katakan alasan pertama saya melakukannya di sini, tetapi saya putuskan untuk mengatakannya demi diri saya sendiri dan orang lain yang berniat menggunakan alasan yang sama. Oke, waktu itu saya beralasan ingin mencari data untuk skripsi, and honestly I did it! Kemudian saya berpikir ulang bahwa itu hanya alasan yang saya buat untuk melakukan sebuah ‘pelarian’ singkat. Dan saya tidak menyesal pernah ‘berbohong’ seperti itu, karena saya mendapatkan kesenangan juga kebutuhan untuk skripsi. Ahli Bahasa Indonesia akan mengatakan ‘sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui’ untuk hal ini, bukan?
Seperti backpacker sungguhan, saya pun memilih penginapan murah yang jauh dari keramaian pusat wisatawan dan jauhnya akses kendaraan umum. Waktu itu saya menginap di Hotel Puspita dengan harga kamar 80rb/ malam, dengan kipas angin, kamar mandi dalam yang lumayan bersih, dan sarapan setiap pagi. Ku mohon jangan hakimi atas pilihan saya ini, karena waktu itu saya masih menjadi pemula untuk hal ini (bahkan masih sangat pemula hingga saat ini). Jarak antara tempat menginap dengan shelter TransJogja sekitar 600 m, berjalan kaki sejauh itu setiap hari cukup membuat kaki pegal karena tidak terbiasa sebelumnya. Hotel itu juga milik keluarga, yang bagian resepsionisnya tidak bisa stand by 24 jam di meja resepsionis. Sampai saat ini saya masih merasa bersalah karena mengetuk pintu dan membunyikan bel berkali-kali pada pukul 2 pagi, di hari pertama saya datang ke Yogya.
Hari pertama saya di Yogya, saya langsung menuju salah satu kampus terbesar dan luar biasa untuk mencari bahan menulis skripsi. Ingat, saya menggunakan skripsi sebagai alasan dan saya hanya berusaha memenuhinya saat itu. Usaha saya tak sia-sia, beberapa buku saya temukan dan petugasnya bersedia memfotokopi untuk saya ambil di hari terakhir saya di Yogya nanti. Setelah memastikan saya memenuhi ‘janji’ itu, tentu saja saya bersenang-senang.
TransJogja berbeda dengan TransJakarta, sangat berbeda. Selama 4 hari di kota ini, saya naik turun bus mini ber-AC warna hijau tersebut. Kartu multitrip seharga 25 ribu rupiah sangat membuat perjalanan lebih efektif dan lebih murah. Tetapi shelter yang disediakan kurang banyak, mungkin karena kota ini tidak sebesar Jakarta. Saya lebih banyak berjalan kaki menuju tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Pertama, saya harus jalan kaki lebih dari 1 km untuk mencapai Taman Sari setelah turun dari TransJogja di kawasan antah berantah yang tidak saya kenal waktu itu. Lelah? Tentu saja. Menyesal? Tidak sama sekali. Jika wisatawan mengunjungi Taman Sari, mayoritas akan menuju pintu masuk yang ada tiket box-nya. Mereka akan disuguhi oleh kolam mandi para ratu dan putri keraton terlebih dahulu, baru diajak mengelilingi Masjid Bawah Tanah dan reruntuhan ‘vila’ kerajaan dengan melewati kampung yang ada disekitarnya. Berkat TransJogja, saya melakukan sebaliknya. Tanpa pengetahuan yang cukup, saya justru melewati perkampungan, reruntuhan ‘vila’ kerajaan, Masjid Bawah Tanah, lalu bagian utama Taman Sari. Tidak ada guide, tidak ada teman. Membuat saya leluasa berjalan sambil mengamati perkampungan itu. Inilah mengapa saya katakan tidak menyesal sama sekali.
Kedua, untuk ke Keraton Yogyakarta, saya harus turun di shelter Taman Pintar atau shelter Malioboro 3 lalu berjalan kaki. Sebenarnya ada becak, waktu itu saya berpikir mending jalan kaki daripada menghabiskan 10-15 ribu untuk naik becak. Pemikiran kere? Terserahlah, saya tidak peduli dengan hal itu. Terakhir kali mengunjungi keraton, saat saya kelas 2 SMP pada tahun 2007. Ada yang berubah? Saya rasa tidak. Keraton tetap berdiri kokoh dengan abdi dalem yang setia. Kalau dulu saya mengunjungi keraton dengan lebih banyak berkeliling dan berfoto bersama teman-teman, saat itu saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk manis menonton pertunjukan wayang lalu mengobrol dengan abdi dalem.
Obrolan dengan abdi dalem cukup menarik. Pertama, abdi dalem yang saya temui saat itu bukan kakek-kakek sepuh, tetapi bapak-bapak paruh baya yang terkejut dengan anak gadis yang bepergian sendiri. “Bapak sudah berapa lama mengabdi?” tanya saya pada beliau yang dijawab, mungkin seumur hidupnya ia sudah mengabdi. Bisa dibayangkan, mata saya hampir copot mendengar hal itu. Tetapi si Bapak segera mengkonfirmasi bahwa beliau sejak kecil sudah melihat kakek dan bapaknya mengabdi untuk keraton, maka beliau pun memilih jalan yang sama. Luar biasa, adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya saat itu. “Semoga berhasil kuliahnya, dan selamat menikmati Jogja,” diucapkan si Bapak ketika mengakhiri obrolan dengan saya.
Ketiga, mengeksplor pasar buku di belakang Taman Pintar dekat dengan Taman Budaya Yogyakarta tidak bisa saya lewatkan begitu saja. Hampir sama dengan Pasar Buku Wilis di Malang, toko-toko kecil dengan koleksi buku bekas, baru, hingga bajakan. Saya tidak berhasil mendapatkan Anna Karenina karya Leo Tolstoy, tetapi saya mendapatkan serial Sherlock Holmes dengan harga super miring.
Belanja di Yogya? Harus, ini menurut saya. Mirota batik, one stop shopping. Di mana saya mendapatkan berbagai penak-pernik lucu untuk oleh-oleh keluarga dan teman satu kamar kos. Pasar Beringharjo adalah pasar yang membuat saya penasaran setengah mati. Pertama, tentu saja saya belanja batik di bagian depan yang berderet stand-stand batik. Satu batik seharga 60 ribu untuk tubuh saya yang besar, sudah cukup murah bagi saya. Tidak itu saja, penasaran saya berlanjut sampai saya melangkah ke bagian belakang pasar yang menjual bahan-bahan untuk membuat jamu tradisional. Aromatherapy khas rempah-rempah langsung menusuk hidung saya, rasanya seperti menerima healing gratis. Bagi yang tidak suka aroma macam itu pasti langsung pusing dan muntah.
The highlight dari solo trip saya adalah a date with old friend. Sahabat cowok sejak SD hingga SMA, yang menempuh pendidikan di Solo. Sejak lulus SMA, saya belum pernah bertemu dengannya hingga dia rela menemui saya di Yogya saat itu. Kami janji bertemu di depan Taman Pintar, kemudian mengisi perut di depan Pasar Beringharjo. Pecel murah meriah dengan berbagai pilihan lauk dan es teh sebagai penyegar. Museum Affandi adalah tujuan date kami saat itu. Menaiki TransJogja dari shelter Malioboro 3 ke Museum Affandi di Jl. Laksda Adi Sucipto harus memutar jauh sekali diwarnai dengan macet, hingga memakan waktu perjalanan sekitar satu jam. “Apa kabar?”, “Sedang sibuk apa?”, “Sudah punya pacar?”, adalah tiga pertanyaan utama yang diajukan untuk masing-masing diri. Sahabat saya ini luar biasa. Saya selalu menilainya seperti itu sejak SD. Dia salah satu yang memiliki kekurangan di dirinya, tetapi tidak menjadikan kekurangan itu sebagai kelemahan. Saya masih ingat, saat lulus dari SD, guru saya curhat soal kekhawatirannya terhadap sahabat saya itu. Khawatir dia menjadi bahan bullying, yang ternyata kekhawatirannya tidak terjadi sama sekali. Sense of humor yang luar biasa dan kebaikan hatinya yang juga luar biasa mampu menutupi segala kekurangan di dirinya, hingga ia bisa melalui seluruh bagian hidupnya tanpa sedikitpun terganggu oleh pendapat orang lain tentang kekurangannya. Tidak hanya itu, otaknya yang encer membuatnya dipercaya oleh dosen dan mendapatkan pekerjaan yang yang sesuai passion-nya, tata kota. Dia juga salah satu yang tidak roaming saat membicarakan isu-isu yang menjadi bidang saya karena pengetahuannya yang luas.
Waktu itu dia minta maaf tidak bisa datang ke pemakaman ibu saya yang terjadi pada 2010. Kemudian, saya bercerita tentang beberapa hal yang terjadi pada hidup saya setelah kematian ibu saya kepadanya. Dia mendengarkan, hanya mendengarkan. Sebelum dia kembali ke Solo petang itu, dia mengatakan yang intinya “Kita harus traveling bareng kapan-kapan”, saya mengiyakan.
Malam itu di kamar hotel, saya sadar betapa beruntungnya diri saya. Pertama, saya beruntung menemukan keberanian untuk traveling seorang diri. Kedua, saya beruntung tidak pernah memburu diri saya sendiri untuk membuat diri saya sama seperti traveler lainnya. Karena dengan melakukan segalanya secara perlahan dan tepat, saya bisa menemukan kepuasan tanpa penyesalan sedikit pun. Ketiga, saya beruntung memiliki sahabat seperti sahabat saya itu. Darinya saya belajar mengolah kekurangan menjadi kekuatan, tidak menjadikan kekurangan sebagai hambatan. Solo trip sederhana itu memberikan saya keberanian untuk melakukan solo trip selanjutnya.

You May Also Like

0 comments