Untuk Hana

by - May 12, 2014

Aku tidak tahu kapan persisnya kita bertemu. Apakah itu sepuluh tahun yang lalu, atau lima belas tahun yang lalu? Ah, entahlah. Aku benar-benar lupa. Lagipula tak penting bagiku kapan kita bertemu. Kamu ada dalam hidupku, itu yang penting.
Namun aku masih ingat, kesan pertama apa yang timbul ketika bertemu denganmu. Kamu gadis kecil yang beranjak remaja, dengan mata yang selalu berbinar, bahkan semakin bersinar ketika kamu tertawa. Aku belajar cara tersenyum dan tertawa darimu. Tapi, aku pun tahu kamu bukan gadis kecil yang selalu tertawa. Aku pernah melihat air matamu, aku pun pernah melihat marahmu.
Aku dan kamu berbagi cerita cinta pertama. Berbagi kebodohan saat puber.
Aku memutuskan pergi dari rumah ketika beranjak dewasa. Kamu memilih tetap tinggal, yang kini ku tahu itu pilihan paling bijak yang pernah ku temui darimu. Aku dan kamu, berbagi bijak kala dewasa.
Kita terpisahkan jarak, tapi aku tahu kamu akan selalu mengatakan 'aku di rumah' ketika aku lelah, ketika aku rindu. Kamu rumahku.
Manusia bergerak maju, kau pun melangkah menuju pintu yang kau pilih. Sekali lagi, aku melihat pilihan paling bijak darimu.
Hari ini, aku melihat perempuan paling cantik dan paling bahagia dalam hidupku. Aku melihatmu, sahabatku.
Hari ini, dia tak lagi menjadi gadis kecil ayahnya lagi. Hari ini, dia menjadi perempuan dewasa. Aku melihatmu, sahabatku.
Kamu lebih dari cinderella yang menemukan pangerannya. Kamu menemukan hidupmu.

Untuk Hana

You May Also Like

0 comments