Biasa yang tak pernah mudah

by - February 08, 2014

"Kalau jadi superhero, kamu ingin jadi siapa?" 
Seseorang pernah menanyakan seperti itu kepada saya, membuat saya berpikir keras untuk menjawabnya. Siapa? Menjadi siapa enaknya?
Kadang saya ingin menjadi Batman, Sang Satria Kegelapan. Punya banyak uang, kaya raya, kuat, bisa membantu siapa saja, dan punya banyak peralatan canggih untuk memberantas kejahatan. Tapi saya memikirkan si Batman ini ketika dia menjadi orang biasa. Bruce Wayne hampir selalu kesepian di rumahnya yang seperti istana. Tak ada orang tua, tak ada kekasih. Jika bukan karena Alfred yang setia melayani dan mendampinginya, tentu tidak akan pernah menjadi Batman yang kuat itu.
Kadang saya juga ingin seperti Spiderman, si Manusia Laba-Laba. Kekuatan yang besar, bisa memanjat, menumpas kejahatan di sana-sini. Namun kehidupan remaja Peter Parker tidak mudah. Kehilangan kedua orang tuanya, lalu pamannya. Dia hanya remaja biasa ketika kostumnya di lepas, remaja yang ingin memiliki kehidupan normal tanpa embel-embel superhero.

"Kalau jadi superhero, kamu ingin jadi siapa?"
Saya mendengar pertanyaan itu lagi. Kali ini saya tersenyum lalu menjawab, "Bolehkah saya jadi orang biasa saja?"
Rasanya menjadi biasa pun tak mudah. Banyak sekali yang membentur di sana-sini, banyak sekali cacat yang saya buat ketika ingin menjadi biasa. Namun akan sangat mudah sekali ketika saya sekali-sekali berlagak seperti superhero.
Saya ingin sekali-kali menghakimi, seperti mereka menghakimi saya. Kelihatannya mudah, namun ternyata perlu keberanian mengambil resiko ketika melakukannya.
Saya ingin marah ketika saya kecewa, seperti mereka marah kepada saya karena mengecewakan mereka. Ternyata tidak mudah, karena mereka semakin memusuhi saya.
Saya ingin menangis ketika saya terluka, seperti mereka yang pernah menangis dihadapan saya meminta belas kasihan karena terluka. Namun ternyata juga tidak mudah, karena keinginan untuk didengarkan selalu tidak sebanding dengan mendengarkan.
Saya ingin tertawa bebas ketika senang. Namun ternyata ada yang tidak bisa tertawa ketika saya sedang bahagia.
Saya ingin menjadi biasa, biasa yang mudah. Sekali saja. Bolehkah?

You May Also Like

0 comments