Kepada Teman Kencan (2)

by - December 02, 2013

Hei kamu, iya kamu, teman kencan saya. Apa kabarmu? Apakah kamu masih malu-malu ketika saya selalu menyebutmu sebagai teman kencan saya? Apakah kamu masih menyembunyikan diriku di balik punggungmu ketika kamu ketahuan kencan dengan saya? Ah, kamu mengangguk. Kamu memang teman kencan saya, teman kencan sembunyi-sembunyi.
Saya ingin bercerita kepadamu. Akhir-akhir ini saya tidak terlalu bersemangat menjalani hari-hari saya. Energi penuh yang selalu saya miliki, yang sering kau irikan dariku, tiba-tiba saja menguap. Saya benci hal ini. Kemudian saya berpikir apakah ini karena saya kehilangan salah satu sumber semangat saya? Saya kehilangan kamu.
Saya merindukan waktu kamu mengirimkan pesan singkat kepada saya untuk set a date and have some dinner. Ah iya, meskipun tidak makan malam setidaknya kita akan menikmati waktu bersama dengan ditemani kopi kesukaan saya dan cokelat panas kesukaan kamu. Kita akan berbincang apa saja, mulai gosip yang ada di sekitar kita hingga mimpi-mimpi masa depan.
Baiklah saya akui, saya pada akhirnya punya teman baru untuk minum kopi. Namun tentu saja dia sangat berbeda denganmu. Saya tidak akan membandingkanmu dengannya, karena saya tahu kalian orang yang berbeda. Saya hanya akan membandingkan rasa kencan saya ketika bersamamu dan ketika bersamanya.
Ketika saya bersamamu, saya akan sangat bersemangat sekali. Bahkan saya memilih dengan hati-hati pakaian yang akan saya kenakan ketika bertemu kamu. Meskipun kamu tahu saya bukan orang yang suka berdandan, tapi saya akan selalu ingin tampak enak dilihat ketika bersamamu. Saya tidak ingin mendapat tatapan menghakimi dari orang-orang di sekitar ketika bersamamu. Saya pun akan berkali-kali melirik ke jam tangan yang selalu saya pakai di tangan kanan, menunggu kamu yang berjanji menjemput saya pada waktu yang telah kita sepakati. Saya pun akan was-was apakah kamu akan membatalkan secara mendadak janji kencan kita atau tidak. Ya, saya tahu kamu sibuk tapi kamu selalu mampu meluangkan waktu untuk ngobrol denganku meskipun saya harus menunggmu selesai dengan semua pekerjaanmu. Ketika bersamamu pun kita selalu bisa talk some random things.
Berbeda ketika saya bersama orang itu. Saya tidak peduli baju apa yang akan saya kenakan, bahkan saya tidak peduli dengan tatapan menghakimi dari orang-orang di sekitar saya dan dia ketika kami bersama. Saya bahkan tidak peduli apakah dia membatalkan janjinya atau tidak. Saya juga bahkan tidak menolelir segala keterlambatan yang dilakukannya. Saya jadi perempuan sengit yang tidak suka jika kemaunnya tidak dituruti. Satu lagi, saya merasa obrolan yang kami lakukan tidak seimbang. Saya harus menjelaskan hingga hal-hal yang paling sederhana kepadanya. Saya pun akhirnya lebih memilih untuk memainkan gadget yang hampir tidak pernah saya sentuh ketika bersamamu, bahkan saya mampu membaca ketika ada orang lain di depan saya. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan ketika saya sedang ngobrol dengan orang lain. Saya pun membatasi topik pembicaraan ketika bersamanya. Tidak bebas.
Hei teman kencanku, apakah saya ini terlalu jahat ataukah terlalu naif? Hingga saya menutup diri dan tidak memberikan kesempatan?
Ah, proses. Iya, kamu selalu mengatakan bahwa saya perlu proses untuk membuka hati. Ini salah satu proses yang harus saya lakukan bukan?
Ketika kamu berada di dekat saya, saya selalu punya kemampuan untuk berani bermimpi lebih tinggi dan berani memimpikan hal-hal absurd. Saya pun selalu memiliki energi untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Kali ini saya hanya harus membiasakan diri jauh darimu, dan menjaga agar energi-energi itu masih eksis. 
Ketika kamu ada di dekat saya, saya selalu bisa menjadi penyabar untuk mengimbangimu yang meledak-ledak. Hanya saja kali ini saya harus membiasakan sabar itu tetap berada di sana, meskipun kamu tidak ada di dekat saya.
Saya merindukan semua energi yang kamu tularkan kepada saya. Saya juga merindukan cemberutmu ketika saya mulai tidak sabar menghadapi ledakan emosimu. Pada akhirnya, saya merindukan kamu.
Baik-baiklah di sana, teman kencanku. Saya tidak memintamu untuk menggantikan saya sebagai teman kencamu, saya hanya ingin kamu tetap sama atau bahkan lebih baik ketika saya tidak berada di dekatmu.
Ah iya, sampaikan salam saya kepada semua orang yang saya sayangi yang masih ada di tempat yang sama ketika saya pergi meninggalkanmu dan mereka. Sampaikan salam sayang saya kepada mereka.

You May Also Like

0 comments