Ketika Aku Merindukanmu

by - November 15, 2013

"Aku merindukanmu. Apa yang bisa kulakukan?"
Aku menuliskan pesan singkat itu diiringi suara air hujan yang menyentuh atap seng. Suaranya berisik, mengaburkan suara-suara orang lain di sekitarku yang sedang bercakap-cakap. Aku ingin pulang, gerutuku dalam hati. Hujan, ku mohon segeralah berhenti.
Tak nyaman rasanya memakai baju yang lembap dalam waktu lama, kaki ku pun basah dan banyak pasir yang menempel. Hujan selalu mebuatku kesal sendiri.
Pesan singkat itu pun terkirim. Aku tak antusias menunggu jawabannya. Sudah lama aku tak antusias lagi menunggu jawaban dari sebuah pesan singkat di mana aku menuliskan 'rindu' di dalamnya. Aku memutuskan untuk berhenti antusias.

"Hiya, geli juga. Apa yang bisa dilakukan? Bingung juga aku"
Aha! Ini jawaban yang aku terima. Aku pun tersenyum kecil, ternyata pesan singkat yang ku kirim berbalas. Tapi tunggu, mengapa aku bisa merasakan hanya separuh bibirku yang terangkat? Aku sedang tersenyum bukan? Mengapa hanya separuh? Mengapa tidak penuh?

"Yang pasti aku tidak akan langsung packing untuk menemuimu"
Aku menuliskan kata-kata itu tanpa berpikir panjang. Tak ada lagi berpikiran panjang hanya untuk menulis sebuah pesan singkat yang. Ku kirimkan padanya. Lalu tak berbalas lagi.

Iya, aku kesal. Aku kesal pernah merindu. Tapi apakah bisa aku menghindari rindu yang tiba-tiba menyeruak? Bagaimana jika rindu itu datang lagi?

Apa yang bisa kulakukan?

You May Also Like

0 comments