100 Alasan

by - November 14, 2013

Kamu egois. Sudahkah aku mengatakan itu?

Ketika kamu meminta alasan tentang mengapa aku disampingmu.

Kamu bodoh. Sudahkah kau membaca karya para penyair itu?
Ketika kamu memintaku mengatakan tentang mengapa aku menyukaimu.

Kamu bodoh. Sudahkah kamu bercermin?
Ketika kamu bertanya padaku mengapa aku melangkah lebih jauh.

Mungkin aku bisa mengutip banyak kata dari penyair-penyair itu tentang mengapa aku disampingmu.
Namun apakah kau tidak merasa kalau itu sangat picis?
Aku tidak pernah bisa memberikan alasan-alasan itu, aku bahkan tidak pernah tahu alasan-alasan itu eksis.

Mengapa aku menyukaimu?
Apakah kau telah membeli cermin seribu dari penyihir yang ada di pasar itu? Ataukah justru kau tertipu kata-kata penyihir itu lalu kau membelinya?
Aku tahu kau kesal karena tidak mendapat jawabannya.
Mengapa kau masih saja mencari jawabannya, sedangkan jawaban itu tak pernah ada. Aku kesal padamu.

'Mengapa kau tidak disampingku lagi?'
Tahu kah kau berapa banyak pisau yang menyayat tubuhku saat kau bertanya itu padaku? Ah, ironis.
Karena aku tahu jawaban untuk pertanyaan itu.
Ada seratus orang yang mengajukan alasan mengapa aku harus bersamamu. Namun hanya satu egoku yang mampu mematahkan seratus alasan itu. Aku tak bisa bersamamu lagi.

You May Also Like

0 comments