Teralis

by - March 09, 2013

Ada sebuah bangunan, yang lebih tinggi dari Eiffel, yang lebih kokoh dari Niagara Falls
Tak lekang waktu, tak mempan peluru
Kau bilang dunia boleh melihatnya, bisa menikmatinya
Hanya dari jauh, atau hanya dari tempat yang sudah ditentukan pemiliknya
Namun tak satupun mampu menjangkaunya lebih dekat, lebih dalam. Tak ada.
Ada tembok tebal yang melindunginya.
"Ku mohon, buka gerbangmu," katamu suatu hari.
Bangunan itu hanya bergeming. Diam tak menjawab.

Kau pun datang lagi esoknya, di depan gerbang yang tak pernah terbuka
Membersihkan segala hal yang mengotori pintu gerbang itu, bahkan kau mengecat kembali pintu gerbang yang catnya sudah mengelupas dimakan waktu.
Mendorongnya sedikit demi sedikit, berharap akan terbuka sedikit karena engselnya yang aus lalu rapuh.

Gerbang itu pun membuka. Kau kegirangan.
Kau pun memutuskan masuk, melihat betapa berantakannya tempat itu.
Dengan sapu dan kain pel, kau mulai membersihkannya. Sedikit demi sedikit, seperti yang pernah kau lakukan pada pintu gerbang. Sedikit demi sedikit kau runtuhkan temboknya, supaya udara dan matahari bisa masuk. Supaya tidak pengap, katamu.

Puas. Kau pun pergi, merasa tugasmu usai.
Lalu bangunan itu kembali tak berpenghuni.
Diam-diam, besi-besi teralis muncul dari bekas tembok yang kau runtuhkan.
Teralis yang menjaganya agar tampak dari luar, namun tak lagi mampu menjangkaunya.
Ada teralis, lebih kuat, lebih kokoh.
Kau gagal.

You May Also Like

0 comments