Harapan dalam Sekotak PHP

by - March 07, 2013

Malam ini terjadi percakapan kecil di media sosial dengan dua orang adik tingkat saya, Susan dan Ayu. Percakapan yang menarik menurut saya, tentang PHP.
Awalnya percakapan ini membahas tentang jam-jam rawan orang kangen yang dituangkan di media sosial, lalu merambat ke olok-olokan kecil tentang PHP antara kedua adik tingkat yang menggemaskan itu. Saya hanya tersenyum mengamati lini masa, sambil terus menanggapi mereka berdua. Candaan kecil kami membuat saya ingin menulis tentang PHP ini.
Mungkin istilah PHP (Pemberi Harapan Palsu) sudah sering didengar oleh pengguna media sosial, terutama pengguna Twitter. Istilah ini diperuntukkan bagi mereka yang 'terjebak' pada situasi penggunaan emosi yang lebih pada suatu hubungan. Kemudian saya bertanya-tanya, apakah benar PHP itu eksis? Atau apakah benar ada korban PHP?
Berbicara tentang PHP, berarti berbicara tentang harapan.
Ketika menjalani suatu hubungan, saya yakin akan ada harapan-harapan kecil yang terselip di sana. Dan menurut saya itu bagus. Karena kita masih berusaha menjadi manusia. Harapan selalu melekat pada manusia, bayangkan saja jika hidup tanpa harapan, apakah bisa kita disebut manusia?
Harapan yang muncul saat menjalin hubungan dalam bentuk apa pun, menandakan bahwa kita peduli pada masa depan. Bagi yang sedang pedekate, mungkin akan muncul harapan untuk jadian. Bagi yang berteman, akan muncul harapan bahwa pertemanan itu akan berlangsung selamanya. Apa pun bentuknya, berharap itu indah.
Istilah PHP atau korban PHP muncul ketika manusia sudah melibatkan emosi didalam suatu hubungan. Emosi ini alami, tidak perlu ditekan atau tidak perlu dihindari. Manusia tidak bisa memilih pada siapa mereka jatuh cinta, bukan? Maka, nikmati saja apa yang muncul dalam hubungan itu yang melibatkan emosi. Karena saya yakin, setiap ledakannya akan membawa cerita. Dan setiap ledakannya akan ada hal yang bisa dikenang kemudian dipelajari. Jangan takut patah hati. Jika patah hati, maka jatuh cinta saja lagi. Patah hati, jatuh cinta lagi, patah hati, jatuh cinta lagi. Begitu seterusnya. Sekali lagi, ini kejutan hidup. Ini bagian dari sari pati hidup. Ini pula bagian dari nikmatnya hidup. 
Jadi, PHP atau korban PHP apakah eksis? Bagi saya tidak. Mereka tidak eksis.
Harapan adalah seninya hidup. Lebih baik menikmati harapan yang tidak pasti daripada hidup tanpa harapan bukan?
Maka, terima kasih untuk Susan dan Ayu. Nikmati harapan-harapan yang muncul dari setiap emosi. Maka kalian adalah manusia yang sedang bersyukur atas nikmatNya.

You May Also Like

0 comments