A Little Life Traveler

by - January 26, 2013

Ini bukan cerita perjalanan yang luar biasa yang hampir selalu terjadi pada traveller, tidak pula terjadi di luar negeri. Tapi ini sepenggal catatan perjalanan yang masih begitu saya ingat dan sempat saya tuliskan, terjadi di Indonesia, di Surabaya tepatnya.

Hari itu hari minggu, tanggal 6 Januari 2013. Saya dan seorang teman memutuskan untuk melakukan perjalanan singkat ke Surabaya demi menonton The Hobbit 3D. Padahal waktu itu sahabat saya ini sedang berada di tengah minggu sibuk ujian akhir semester, tapi jika perjalanan ini tidak dilakukan sekarang lalu kapan lagi, itu kata sahabat saya waktu itu. Benar saja, saya mendapatkan hal menarik dalam perjalanan itu.
Cerita ini berawal ketika kami usai menonton film dan memutuskan untuk kembali ke Malang secepatnya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk naik taksi saja menuju Terminal Bungurasih. Saya terlalu malas dan capek jika harus menggunakan angkutan kota untuk ke terminal di hari yang sudah gelap dan hujan. Akhirnya kami masuk ke taksi yang memang mangkal di pangkalan taksi Ciputra World. Saya duduk di depan, di samping supir, sahabat saya ini duduk di belakang. Kemudian dimulailah percakapan dalam taksi.

Bapak sopir taksi, yang kini saya lupa namanya, bertanya pada kami, hendak kemana kami setelah dari terminal. Saya pun menjawab, bahwa kami akan kembali ke Malang. Beliau bertanya lagi, apakah kami memang asli Malang. Sahabat saya menjawab sekenanya, dan mengatakan bahwa kami tinggal di Malang. Tak terduga Pak Sopir pun berkampung halaman di Malang, lebih tepatnya di Batu. Akhirnya semakin panjanglah percakapan antara Pak Sopir dengan sahabat saya ini. Saya memilih diam dan mendengarkan di bangku depan.

Pak Sopir bercerita bahwa beliau berasal dari Batu. Lulus SMA langsung mengadu nasib di Surabaya dan menjadi pegawai di salah satu perusahaan multinasional besar di Surabaya hingga akhirnya menikah dengan perempuan asli Kota Pahlawan tersebut. Dari hasil pernikahannya Pak Sopir memiliki dua anak, yang pertama laki-laki, sudah lulus SMK dan bekerja di Jakarta. Anak yang kedua, perempuan, masih kelas 3 SD. Beliau menceritakan perjalanan hidupnya hingga akhirnya menjadi sopir taksi. Ternyata beliau ini memilih pensiun dini lantaran keluarganya tidak mengijinkan beliau untuk ditugaskan di cabang perusahaan di Sumatera. Keluarga pihak istri yang tidak mengijinkan beliau membawa istrinya turut serta ke Sumatera, sedangkan keluarga beliau di Batu hanya mengijinkan pergi apabila ditemani oleh istri. Akhirnya beliau memilih pensiun dini, meskipun manajer perusahaan berusaha mati-matian untuk membujuk beliau. Alasan berat pada keluarga menjadi titik balik karir yang sudah dibangun selama 20 tahun. Uang pesangon pun diterima, sebagian ditabung dan sebagian lagi digunakan untuk memperbaiki rumah. Kemudian beliau melamar menjadi sopir taksi dan akhirnya bertemu kami.

Beliau pun memaparkan rencana lima tahun ke depan, bahwa beliau ingin kembali ke Batu untuk merawat orang tuanya begitu si anak perempuan lulus SD. Beliau berencana menjual atau mengontrakkan rumahnya di Surabaya dan bersama-sama dengan keluarganya pindah ke Batu dan memulai lagi dari awal.

Percakapan kami terhenti ketika kami tiba di pintu depan terminal. Kami pun membayar sesuai argo dengan menambahkan tips yang tidak begitu banyak, namun semoga saja bermanfaat. Begitu turun dari taksi, kata pertama yang sahabat saya luncurkan adalah, "Betapa pedulinya Bapak itu sama keluarganya ya," sementara kalimat pertama saya adalah "Ketika nanti aku jadi istri, aku akan ikut kemana pun suamiku pergi dan sesusah apa pun hidupnya". Sahabat saya tidak menanggapi seketika. Kami pun berjalan, sedikit berlari sebenarnya, di bawah rintik hujan yang memisahkan peron dengan tempat bis berjajar menunggu penumpangnya. Setelah menelusuri pangkalan bis dan membaca satu per satu tujuan akhir bis, akhirnya kami menemukan bis cepat ke Malang. Segera kami naik, dan beruntung mendapatkan dua bangku yang masih kosong.

Tak lama kemudian bis pun melaju meninggalkan Surabaya. Saya melanjutkan kata-kata saya tadi dengan cerita tentang ibu saya yang meninggalkan keluarganya di Kediri untuk ikut merantau dengan ayah saya ke Surabaya ketika awal pernikahan mereka. Waktu itu, mereka belum memiliki apa pun termasuk rumah. Tempat tinggal mereka hanyalah kamar kos berukuran 4x6, dan itu pun bertahan hingga lima tahun lamanya, bahkan ketika saya sudah hadir di antara mereka. Oleh karena itu, saya menyatakan bahwa saya akan menyertai suami saya nanti bagaimana pun keadaan hidup kami. Sahabat saya pun bercerita, keadaan orang tuanya juga hampir sama dengan keadaan orang tua saya ketika memulai hidup. Maka dia mengerti betul dengan apa yang saya maksud. Saya pun melihat ke luar jendela yang gelap, teringat kata-kata ibu saya yang telah tiada. Ibu saya pernah mengatakan, bahwa ketika berkeluarga nanti, sebiasa mungkin jangan pernah bergantung kepada orang tua, karena sekali bergantung maka selamanya akan bergantung. Dan jika dua rumah tangga hidup dalam satu atap maka akan rentan sekali terhadap konflik. Dan inilah yang akan menjadi kehancuran rumah tangga tersebut. Saya menghela napas panjang, kemudian pamit tidur kepada sahabat saya. Memejamkan mata sejenak, menjadi obat ampuh ketika saya mulai mengingat hal yang pada saat itu tidak ingin saya ingat.

Saya memang belum mengerti apa-apa tentang hal ini, namun melihat perjuangan orang tua saya hingga saat ini memberikan saya banyak pelajaran. Ditambah dengan cerita Pak Sopir dalam perjalanan singkat bersamanya. Ada banyak hal di dunia yang perlu saya pelajari untuk menjalani hidup. Pak Sopir tadi mungkin adalah malaikat bagi keluarganya, dengan cara yang beliau anggap benar dan perlu dilakukan. Dan ibu saya juga malaikat bagi ayah saya dengan cara yang beliau anggap tepat. Saya pun bisa jadi malaikat seperti ibu saya dalam perjalanan hidup ini, tak terkecuali sahabat saya pun bisa jadi malaikat dengan cara yang dia anggap tepat dan sempurna.

Sebuah pelajaran dalam perjalanan tidak selalu didapat ketika pergi jauh, sering kali perjalanan kecil memberikan banyak arti. Semua tergantung bagaimana kamu menyerap apa yang selalu disampaikan oleh sebuah perjalanan - Sevy, 2012

You May Also Like

0 comments