Gelisah

by - December 18, 2012

Saya memulai tulisan ini dengan rasa kecamuk di dada. Kecamuk marah dan kecewa, pada orang-orang yang saya cintai di tempat saya belajar selama empat tahun ini. Pada mereka yang menghancurkan percaya saya selama ini. Pada mereka dimana saya menaruh harapan untuk masa depan negeri yang saya cintai.

Saya gelisah. Tak bisa tidur semalaman, ketika mendengar beberapa orang yang selalu saya panggil dengan sebutan Aa, Abang, dan Mas (kakak laki-laki), yang saya anggap saudara sendiri terluka oleh hantaman adik laki-laki saya. Ah, mengapa ego begitu kejam. Mengapa mereka membiarkan ego menguasai diri mereka? Tak cukupkah mereka melihat ego telah membakar orang-orang yang ada di jajaran yang lebih tinggi dari mereka? Lalu mengapa pula mereka membiarkan ego melakukan hal yang sama terhadap diri mereka?

Saya tidak menyalahkan siapa pun, juga tidak membela siapa pun. Saya hanya terluka ketika mereka mengepalkan tinju kepada saudara mereka sendiri. Ketika kami sama-sama memiliki darah yang sama, ketika kami dilahirkan oleh rahim pertiwi yang sama. Saya teluka sangat terluka. Percaya saya di nodai, cinta saya ditampik sebegitu hebatnya.

Salahkah jika saya merindu saat-saat kita tertawa bersama, saat kita membangun rumah yang sama, saat kita  jatuh bersama. Saya rindu pelukan kalian, keluh kesah kalian di pangkuan saya, atau sekedar genggaman hangat tangan saat meminta kekuatan kala mengalami kepedihan.

Saya rindu. Saya rindu. Saya rindu.


You May Also Like

0 comments