Aku, Kamu, Teh, Perjalanan. Kita.

by - August 30, 2012

Aku

Aku. Tak ada yang istimewa dariku ketika kau bertemu denganku. Hanya saja aku percaya setiap orang diciptakan unik, aku pun begitu. Bagimu aku pemimpi, pemilik romantisme paling tinggi, pemilik dunia khayal lewat letiknya jemariku saat menuliskannya. Ya, aku pemimpi, aku penghayal. Bagi sebagian orang, aku bodoh. Aku pemilik emosi paling kuat, memaki jika memang dadaku sedang bergemuruh, mengungkap cinta setiap saat. Bagimu aku pun pintar. Kau selalu bisa menebak pikiranku, tapi tidak dengan hatiku. Aku penyembunyi ulung. Aku pembohong terbaik. Aku mencintai kamu, tanpa aku tahu kapan bertemu denganmu.


Kamu

Kamu laki-laki paling baik yang akan dan pernah aku temui. Kamu juga laki-laki paling hebat. Dan kamu, orang paling cerdas. Kamu meraih mimpimu, menjadikan dirimu hebat, dunia bisa kamu genggam. Kamu ada. Terima kasih, karena membagi mimpimu. Terima kasih, karena sudah ada di dunia. Humormu akan menjadi penghibur paling hebat. Aku akan jatuh cinta padamu setiap hari, bahkan saat kamu masih terlelap. Pelukmu akan menjadi penyemangat terbaik. Dan aku juga tahu, kamu akan menjadi pecium ulung. Puisi paling berirama, dan karya sastra terbaik dunia. Ijinkan aku membagi dunia khayalku. Ijinkan aku membawamu ke dalam mimpiku. Ijinkan aku menulis puisiku. Karena hanya bersamamu aku percaya, karena hanya bersamamu aku ada. Segala sesuatunya menjadi benar, segala sesuatunya menjadi nyata.


Teh

Jika ada sebagian orang yang menyebut suara ombak sebagai suara alam paling merdu, aku menyetujuinya. Bolehkah aku menambahkannya? Suara angin yang bergesekan dengan daun lalu membuat gemuruh lembut, juga suara alam paling merdu.
Aku duduk di rumah pohon itu, mendengar suara alam paling merdu. Mendengar angin menabrak jajaran daun teh terbaik di negeri ini. Aku mendengar Tuhan bernyanyi. Rasanya hanya ada aku dan Tuhan. Hanya kami. Berbincang.


Perjalanan

Hidupku perjalanan. Hidupmu perjalanan. Aku berjalan di jalanku. Kamu berjalan di jalanmu. Jalan ku tak pernah sama. Jalamu tak pernah tak berbeda. Aku pernah memutar. Kau pun pernah tersesat. Aku pernah berpikir menemukanmu saat aku melihatmu dipersimpangan. Mungkin kau juga pernah mengenaliku. Kita pernah ada di persimpangan yang sama. Kita pernah berdiskusi tentang suatu jalur. Waktu itu kau bertanya padaku, apakah jalur yang akan kau tempuh itu tepat, tanyamu sambil menunjuk suatu jalan. Aku pernah mendengar jalur yang kau sebutkan, jalan itu panjang, penuh debu, batu, dan lumpur. Aku bukan tipe orang yang akan memilih jalur itu. Kau berbeda, kau ingin melewatinya. Bagimu itu tantangan, bagimu itu tepat.. Aku mendengar mimpi di kata-katamu. Aku juga mendengar cinta di dalamnya. Aku pun mengangguk. Aku percaya padamu, aku percaya pada jalan itu.
Kau pun bertanya, tentang jalan yang ku pilih. Aku menunjukknya. Jalan itu juga seperti lorong menuju dunia Alice. Kadang seperti lorong waktu di laci meja belajar Nobita. Kau melihat kegelapan di sana. Lama. Lalu matamu tertuju padaku. Kemudian kau tersenyum. Aku tahu kau juga percaya padaku.
Lalu kau melangkah, aku pun melangkah. Sebelum masuk ke jalan masing-masing, kau memberiku satu hal paling indah. Senyummu. Ya, aku menyukainya sejak awal. Aku jatuh cinta sejak awal. Aku jatuh cinta padamu.


Kita

Kita akan bertemu. Di persimpangan lagi. Hanya saja kali ini kau memelukku lebih lama di persimpangan itu. Memintaku untuk berada di jalan yang sama. Memintaku untuk berada disisimu. Ada ketakutan dalam suaramu. Ada harapan pula didalamnya. Hanya perlu satu anggukan untuk meyakinkamu. Kau masih percaya padaku, seperti pertama kali dulu. Aku menemukan jemariku dalam genggamanmu. Aku menemukan diriku berada di jalan penuh batu tajam itu. Aku menemukan diriku bersamamu. Aku. Kamu. Perjalanan. Kita.



*Terima kasih untuk kamu yang pernah ada, yang saat ini ada, dan yang akan ada.

You May Also Like

0 comments