Mimpi Ayah

by - May 13, 2012

Siang itu, saya duduk di depan televisi bersama ayah saya. Ayah saya ini rambutnya sudah mulai memutih, dan binar matanya sudah tampak redup. Saya juga tahu mengapa ayah tampak begitu lebih tua dari usianya yang belum menginjak lima puluh. Ayah sedang mengalami banyak masalah, dan siang itu kami memilih untuk tidak membicarakan masalah Ayah ini.
Siang itu, ayah menceritakan kepada saya tentang pekerjaannya. Tentang bagaimana dunia kerja. Ayah memberitahu saya tentang hubungan yang akan terjadi di sebuah pekerjaan, konflik yang nantinya mungkin akan saya hadapi, dan persaingan apa yang menanti saya di depan. Saya terdiam lama sekali, sampai akhirnya saya bertanya,
"Nanti aku bakal jadi apa ya, Yah?"
Ayah saya menjawab, "Ya apa aja yang kamu suka,"
Saya mengerutkan kening mendengar jawaban beliau.
"Ayah sih ngga masalah kamu mau kerja di mana mbak," beliau melanjutkan. "Kalau kamu dapat beasiswa buat sekolah lagi pun, ayah ngga masalah."
Saya terdiam.
"Lakukan saja apa yang kamu suka, karena ayah itu percaya kalau kamu menyukai apa pun yang kamu kerjakan, kamu pasti bisa menghasilkan sesuatu yang baik bagi kamu, juga bagi apa yang kamu kerjakan. Ayah tahu kamu suka menulis, kamu suka buku. Jadi, menulislah, kalau kamu memang suka. Buat buku sesuai sama imajinasi dan kreatifitas kamu. Ayah kepengen baca buku tulisan kamu, mbak."
Saya hanya tersenyum kecil, menahan kaca yang ada di mata supaya tidak leleh menjadi air.

You May Also Like

0 comments