Kepada Teman Kencan

by - May 04, 2012

Hei kamu, iya kamu. Apa perlu saya menyebutnya dengan gamblang bahwa kamu teman kencan saya? Ah, saya rasa kamu akan malu mendengar saya menyebutmu begitu. Baiklah, saya akan menyebut kamu saja. Iya, kamu saja sudah cukup.
Kemarilah sebentar, saya ingin menceritakan satu rahasia saya kepada kamu. Rahasia tentang apa yang saya rasakan ketika kita merencanakan untuk menghabiskan waktu, merencanakan kencan. 
Saya selalu bersemangat ketika kita mulai set a date, and have some dinner. Karena saya tahu saya akan memiliki waktu yang menyenangkan, bahkan tak jarang menjadi rumit. Hal itulah yang membuat hati berdebar-debar karena senang. 
Saya akan bingung memilih baju mana yang akan saya pakai, saya tidak ingin kelihatan berlebihan di mata kamu, tapi saya juga ingin terlihat cantik. Kemudian pada akhirnya, saya akan memilih pakaian yang nyaman untuk saya pakai. Kamu tahu kan, saya cenderung memilih apa pun yang saya nilai nyaman. Dan saya memilih menjadi diri saya sendiri saat akan kencan denganmu, karena saya tahu kamu menyukai saya yang menjadi diri saya sendiri.
Lalu saya akan berhati-hati menggunakan make up. Eh salah, saya tidak pernah pake make up. Cukup dengan pelembab, bedak, dan pelembab bibir saja. Sekali lagi saya tidak ingin merasa tidak nyaman. Saya ingin bebas ngobrol sama kamu nanti, jadi sekalian saja saya nyamankan diri saya.
Saya pun berhati-hati menyemprotkan parfum ke tubuh saya. Tidak banyak, tapi saya yakin akan membuat aroma saya menyegarkan hidung kamu. Semoga kamu tidak pilek, jadi bisa mencium aroma tubuh saya.
Kemudian saya akan berkali-kali melihat jam tangan yang sudah melingkar rapi di pergelangan tangan saya, menunggu waktu janjian kita dengan gelisah. Harap-harap cemas, sering kali takut juga kalau membayangkan kamu akan membatalkan janji di waktu-waktu terakhir. Kadang ponsel saya berdering, pesan darimu pun masuk, mengabarkan bahwa kamu akan sedikit terlambat menjemput saya. Tak apa, saya selalu menjawab begitu. Saya menunggu, dan kamu juga selalu tahu, bahwa saya akan tetap menunggu sampai kamu bilang jangan menunggu lagi. Kamu benar-benar memahami karakter saya.
Ketika kamu sudah ada di depan pagar rumah saya, saya selalu sumringah melihat wajah kamu. Apa kamu melihat semburat merah dipipi saya waktu itu? Ah, saya harap saya bisa menyembunyikan semburat merah itu. Saya terlalu malu, untuk urusan ini. 
Kita tidak pernah benar-benar merencanakan dengan jelas tujuan kita setiap kali kencan. Keputusan mendadak selalu tercipta. Seperti makan apa dan dimana. Saya tidak keberatan dengan itu, saya selalu ikut kemanapun kamu mengajak saya. Dan hebatnya, kita ini sama-sama pemakan segala. Jadi tidak akan susah mencari tempat makan yang sesuai dengan lidah kita. Selera kita tentang makanan hampir selalu sama.
Obrolan demi obrolan pun mengalir di sela-sela makan malam kita, entah itu tentang hal menyebalkan yang kamu alami atau cerita tentang kamu yang sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan cantik. Saya selalu suka mendengar ceritamu. Tak jarang, kamu yang mendengarkan cerita saya pada beberapa kencan kita. Cerita tentang tulisan saya, atau cerita tentang pria yang membuat saya jatuh cinta kemudian patah hati. Tak peduli cerita senang atau sedih, kita hanya menikmati waktu bersama. Berdua, hanya kita.
Tak jarang pula kita membicarakan tentang politik, topik yang cukup berat tapi bisa membuat kita bertahan lama di suatu tempat hingga lupa waktu. Pembicaraan kita selalu melibatkan cangkir kopi dan cangkir cokelat yang lama-lama menjadi dingin, tetapi obrolan kita semakin panas.
Saya selalu suka berbicara dengan kamu. Kamu selalu bisa membuat saya bertahan mendengar cerita kamu atau berbicara denganmu, sampai saya tidak ingin pulang. Apa kamu juga merasa seperti itu setiap kali kita kencan?
Saya juga senang ketika kita memutuskan jalan-jalan mengelilingi kota, menikmati angin yang menerpa wajah, sesekali melihat apa yang terjadi di sekitar. Saya selalu suka berada di boncengan motormu, kamu yang membonceng tentu saja, rasanya aman berada di balik punggungmu.
Kata orang, kencan membawa kita pada cinta. Aku setuju dengan kata orang itu. Karena bagiku, kita memiliki cinta dengan cara kita sendiri yang orang lain mungkin tak akan paham. Saya mengasihi kamu, dan kamu mengasihi saya. Tapi saya tidak pernah jatuh cinta padamu, dan kamu tidak pernah jatuh cinta pada saya. Kita hanya punya chemistry yang sama, memiliki keinginan untuk berbagi cerita. Bukankah itu luar biasa? Bagaimana menurutmu?
Ah, saya selalu senang kencan denganmu. set a date, have some dinner, and talk some random things. Buktinya saya selalu tersenyum sebelum jatuh tidur setelah kamu mengantarkan saya pulang. Saya selalu tersenyum dalam tidur saya setelah kencan sama kamu.

berbagi itu menyenangkan bukan?


Hei kamu, saya bisa melihat semburat merah di pipi kamu loh. :)

You May Also Like

0 comments