Memeluk Cinta (Jakarta - Bandung - Jakarta)

by - March 03, 2012

Hari itu 22 Juli 2011, pukul 4 sore waktu Jakarta. Saya baru saja keluar dari kantor, tempat magang saya. Terburu - buru, dipenuhi rasa senang dan rindu. Saya akan pergi ke Bandung, mengunjungi salah satu cinta saya, salah seorang dimana saya selalu memiliki alasan untuk berjuang. Saya akan mengunjungi kakak saya hari itu.

Begitu sampai rumah, saya melakukan segala sesuatunya dengan cepat. Mulai dari packing hingga menginjakkan kaki ke jalan. Entah mengapa tinggal di kota yang serba terburu-buru dan cepat ini, membuat saya melakukan hal yang sama. Cepat dan terburu-buru. Maklum saja, saya pikir saya harus sampai di shelter travel satu jam lebih awal, macetnya Jakarta tidak bisa dikompromi bukan?

Rumah tempat tinggal sementara saya di daerah Rawamangun, shelter travel ada di daerah Cempaka Mas. Lumayan jauh, dan ongkos taksi akan sangat mahal ditengah macetnya Jakarta sore ini. Jadi saya putuskan naik metro mini, lalu ojek menuju ke sana. Panas, lengket, dan berdebu. Tapi tak menyurutkan buncah di dada.

Travel yang membawa saya ke Bandung berangkat pukul setengah tujuh. Saya punya waktu yang cukup untuk sholat maghrib dan sedikit mengamati sekitar saya. Dalam waktu menunggu itulah saya teringat seseorang yang hingga hari itu masih ada dipikiran saya.

Tiba - tiba saya begitu merindukan dia waktu itu, ingin tahu bagaimana kabarnya. Tanpa pikir panjang, saya mengeluarkan ponsel dan mengetik untuk dia. Lalu dimulailah percakapan singkat, melalui sms. Saya lega mengetahui kabarnya, dan saya mulai berpikir tentangnya.

Berbagai pertanyaan mulai hadir di benak saya. Pertanyaan utamanya adalah, mengapa saya selalu peduli sama dia, padahal dia belum tentu masih peduli sama saya. Pertanyaan rentetan berikutnya adalah, mengapa saya yang selalu lebih dulu menanyakan 'apa kabar', mengapa begitu cepat pedulinya pada saya hilang, mengapa tidak pernah menanyakan tentang saya lagi. Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Berkali-kali menghela napas. Berkali-kali pula tak mampu menjawabnya. Hingga akhirnya saya harus naik ke travel, menuju Bandung. Perjalanan selalu membuat saya mampu berpikir jernih, mampu menguraikan kusutnya otak saya. Tapi tidak di perjalanan ini. Pada akhirnya saya memilih untuk menghilangkan bosan dengan menulis pesan singkat kepada sahabat saya di Malang, dan seorang sahabat saya yang sedang berada di KL untuk 'bertugas'.

Dua jam kemudian, saya sampai di Bandung. Waktu itu kakak saya langsung menjemput, jadi tak perlu menunggu lama di tanah asing. Dan saya sangat lega bertemu dengannya, karena saya tahu saya berada di tangan yang tepat. Kakak saya pun membawa saya ke tempat kosnya, di daerah Siliwangi yang padat.

Begitu tiba di tempat kosnya, saya langsung mengangguk-anggukan kepala. 'Jadi seperti ini kehidupanmu di sini, Mas.' benak saya berkata. Kamar kos itu sangat sempit, berukuran 2x2 meter, tanpa dipan, hanya kasur tipis dan karpet. Disatu sisi dindingnya penuh dengan meja dan lemari mungil. Mejanya berantakan, ada laptop, buku2. Di kolong mejanya ada masih padat dengan buku dan kertas-kertas, ada juga satu toples berisi biskuit cokelat, temannya saat mengerjakan tugas. Di sisi lain tembok kamarnya, ada setumpuk barang yang diletakkan di kardus, termasuk beberapa baju. Lalu ada magic com dan peralatan makan yang sudah di cuci. Satu-satunya pikiran yang mampir adalah, kakakku tidak pernah berubah, dia selalu sama, selalu sederhana. Salah satu alasan saya sangat menghargainya.

Dia menanyakan pada saya mau jalan-jalan kemana. Saya dengan cepat menjawab, 'ke Kawah Putih atau Tangkuban Perahu.' Dia mengernyit, lalu menjelaskan bahwa kedua tempat itu berada di daerah berbeda dengan jarak tempuh yang jauh dan memakan waktu. Satu di selatan, dan satu di utara. Akhirnya saya memilih ke Kawah Putih saja. Akhirnya saya pun menemaninya mengerjakan tugas sambil ngobrol hingga tengah  malam, sebelum akhirnya dia pindah ke kamar lain, supaya saya bisa menguasai kamarnya dengan leluasan. It is gentle, huh?!

Malam berlalu lambat, dan dingin. Menusuk hati, hingga mungkin bisa patah.

Pagi buta yang dingin itu mampu membangunkan saya, selain suara adzan yang langsung menembus tembok kamar kos yang memang menempel dengan masjid kampung. Air wudhu yang dingin langsung menusuk tulang, tapi tak cukup mampu membuat mata saya melek seratus persen. Akhirnya setelah sholat pun, saya melanjutkan tidur hingga pukul 6 pagi. Waktu itu kakak saya membangunkan saya dan mengajak jalan-jalan ke ITB, kampus kesayangannya. Saya menurut, apa salahnya menghirup udara segar di Bandung sebelum kembali pada Jakarta yang berdebu.

Jalan-jalan bersama kakak saya, membuat saya lebih mengenalnya dari yang pernah saya tahu selama ini. Ternyata dia tak pernah benar-benar belajar tentang politik kampus, tidak seperti saya yang memang beruntung bisa mempelajari itu meskipun masih dangkal. Mimpinya tentang bisnis yang sedang dikembangkannya. Kehidupan di kampusnya.

Dia membawa saya masuk ke kampus, padahal waktu itu saya hanya memakai celana training dan kaus. Tapi waktu itu kan hari sabtu, jadi saya cuek saja. Dia menjadi guide tour dadakan bagi saya. Menunjukkan gedung - gedung disekitar kami, menunjukkan titik gema buatan di ITB, menunjukkan not-not Indonesia Raya yang dibuat dari ubin di sebuah kolam hias. Dia tidak lupa menunjukkan pada saya dimana dia kuliah. Saya hanya bisa mengangguk - angguk, sejujurnya pikiran saya ada ditempat lain saat itu.

Pukul sepuluh pagi dia mengantarkan saya ke Kawah Putih, membonceng saya dengan motor pinjaman yang STNK-nya masih diurus perpanjangannya. Ditambah lagi, dia tak pernah benar-benar tahu jalan ke Kawah Putih. Jadilah kami ke Kawah Putih tanpa STNK dan tanpa pernah benar-benar tahu arahnya. Seperti yang sudah saya duga, ada razia dadakan dan kami kena tilang. Seratus ribu pun melayang. Dan berkurang pula hasrat belanja di Kota Belanja ini.

Perjalanan ke Kawah Putih sangat menyenangkan. Seperti jalanan di daerah Batu dan sekitarnya. Berkelok-kelok, memanjakan mata dengan kebun stroberinya. Bukan dingin menusuk, tapi sejuk yang menyenangkan. Saya hanya berbekal pashmina sebagai penghangat tubuh waktu itu. Berwudhu dengan air gunung yang sejuk dan melimpah siang itu, membuat saya mencintai tempat itu seketika. Dan saya berjanji, saya akan kembali lagi.

Memasuki kawasan wisata Kawah Putih ternyata tidak semulus yang saya pikir. Kami harus melalui jalanan yang tidak mulus, berkelok, sekaligus menanjak. Tapi karena saking senangnya, saya tidak mengeluh sedikitpun. Saya ingin segera sampai di puncak, lalu mengagumi.

Inilah keajaiban itu (23 Juli 2011)
Kawah Putih. Tempat yang membuat saya terdiam sejenak saking takjubnya. Hijau, biru, dan putih menjadi satu. Asap kawah yang tipis, seperti selimut yang membungkus pemandangan menakjubkan itu. Saya pun menemukan diri saya jatuh cinta sekali lagi. Jatuh cinta pada tempat itu, dan jatuh cinta pada penciptanya. Hati saya membuncah, dipenuhi rasa bersyukur. Hilang sudah kekusutan otak yang sempat mampir, bahkan saya bisa melupakan dia pada saat itu. Benar-benar lupa. Saya sedikit tidak percaya, tapi itulah adanya. Saya menemukan sedikit titik terang tentang dia akhirnya.

Saya memanfaatkan camera pocket kesayangan saya dengan maksimal, jepret sana jepret sini. Tak melewatkan satu spot pun. Kakak saya menjadi juru jepret, dia tak pernah mau diabadikan dalam memori foto. Kalaupun mau, pasti ditutup bagian wajahnya. Lucu tapi menjengkelkan juga.
Salah satu 'harta karun' di Kawah Putih (23 Juli 2011)

Lalu dia mengajak saya ke Danau Situ Patengan, yang ditengahnya ada sebuah pulau kecil yang dinamakan Pulau Cinta. Saya sangat geli dengan nama itu. Bagaimana mungkin masih ada orang yang menamakan suatu tempat dengan nama rasa hati. Tapi saya penasaran juga, bagaimana bisa dinamakan Pulau Cinta. Ternyata memang bentuknya seperti hati, dan konon jaman dahulu pulau itu menjadi tempat pertemuan sepasang kekasih yang sedang merindu. Oh my God... ternyata ada juga cerita semacam ini. 

Danau Situ Patengan dengan Pulau Cinta-nya (23 Juli 2011)
Pulau itu bisa diakses dengan menyewa sebuah perahu mesin untuk sampai ke sana. Kakak saya menawarkan untuk kesana, tapi saya menolak. Biaya sewa perahu untuk satu orang saja cukup mahal, sekitar tiga puluh ribu. Lagipula saya tidak tertarik kesana. Akhirnya kami berdiam diri di pinggir danau, menikmati kemilau air yang ditempa sinar matahari. 

Sepulang dari Situ Patengan, saya dimanjakan dengan pemandangan kebun teh yang tak berbatas. Benar-benar menyenangkan. Dan tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan itu begitu saja, beberapa jepretan berhasil diambil. Saya puas. Kami pun kembali ke Bandung.

Kami tiba di Bandung tepat saat maghrib menjelang, Kakak saya mengajak ke Masjid Salman. Ah, masjid itu lagi. Ada perasaan rindu tak tertahankan, begitu mendengar nama masjid itu disebut. Saya masih ingat harum lantai kayunya dari pertama kali menginjak masjid ini tahun 2007 yang lalu, akhirnya pada 2011 saya kembali lagi ke tempat ini. Masih sama seperti saat pertama kali, masih menjanjikan kehangatan dan kedekatan pada Tuhan. Dan masih menjanjikan pelukan pada setiap orang yang datang. Termasuk saya.

Bersujud saat itu, seperti bercinta dengan Tuhan. Masuk ke dalam pelukannya, penuh rasa syukur.

Malam itu belum berakhir. Saya bertemu kawan lama, yang juga kawan kakak saya. Banyak kabar yang ditukar, banyak cerita yang dibagi. Dia pun mengajak kami menghabiskan malam minggu di CiWalk. Aku langsung menyetujuinya. Malam itu kami menjadi anak gaul Bandung yang nongkrong di mall hingga tengah malam. Kami duduk di pelataran mall, melihat pertunjukan musik yang hampir selesai. Dan seperti biasa, saya menikmati itu bersama kopi.

Pukul 12 tepat kami kembali ke tempat kos, kali ini aku menginap di kos kawan saya itu karena saya tidak rela ditinggal sendirian di tempat kos kakak saya yang sepi, sementara dia berencana menginap juga di tempat kawan kami itu. Akhirnya kami tidur bersama di dalam kamar yang sempit itu, dan karena saya satu-satunya perempuan di tempat itu, saya bisa menguasai tempat terhangat, yakni kasur dengan dipannya. Thanks Dude!

Keesokan harinya, kami pergi ke Sabuga. Olahraga pagi. Sungguh, dua hari itu hidup saya berasa sehat dengan olahraga rutin selama dua hari. Meskipun akhirnya rasa kantuk membuat saya tetap tertidur setelah selesai olahraga pagi itu. Padahal jam menunjukkan masih pukul 9 pagi. Keterlaluan memang, tapi masa bodohlah.

Saya harus kembali ke Jakarta pukul setengah lima hari itu, dengan kereta. Tapi sebelumnya saya ingin diantar ke Kartika Sari untuk membeli sedikit camilan untuk keluarga di Jakarta. Kakak saya bersedia mengantar. Kartika Sari pada hari minggu menurut saya adalah pasar. Banyak orang dan sangat sesak. Semua berteriak minta dilayani. Antrian kasir lebih panjang daripada antrian di bank pada hari senin. Saya terjebak di sana dengan tiga potong brownies.

Pukul setengah empat sore saya sudah ada di stasiun. Kakak saya meninggalkan saya di sana, kembali lagi ke kehidupan normalnya tanpa saya. Saya harus bersabar selama sebulan lagi, untuk bertemu dengan dia saat lebaran nanti. Yaitu saat dia kembali ke rumah.
Stasiun Bandung (24 Juli 2011)
Stasiun, bagi saya adalah rumah saya yang lain. Saya mampu menemukan kedamaian disana, sekaligus menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang saya ajukan. Kali ini saya menemukan jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan pada hari saat saya berangkat ke Bandung. Saya memutuskan sesuatu. Titik terang yang saya temukan sebelumnya saat berada di Kawah Putih membuat saya yakin, bahwa saya memang perlu melepaskannya. Tak perlu lagi membawanya ke dalam kehidupan saya yang serba absurd itu. Karena saya tahu hidupnya begitu tertata, dan penuh kepastian, tidak seperti saya yang serba spontan dalam melakukan sesuatu. Saya bukan tak ingin bejuang, tapi saya tidak ingin berjuang demi orang yang tidak berjuang demi saya juga. Egois memang, tapi saya ingin menyelamatkan hati saya dari ketidakpastian. Saya ingin hati saya bebas.

Saya menemukan cinta yang lebih dari yang saya rasakan pada saat itu. Dia ada di sekitar saya, memeluk saya lebih erat. Melepaskan bukan berarti membiarkan pergi, tapi menyelamatkan dari sakit yang seharusnya tak perlu dirasakan. Melepaskan juga bisa berarti berdamai dengan hati.

Pada akhirnya saya memeluk cinta lagi hari itu.

You May Also Like

0 comments