Hangat

by - March 21, 2012

titik-titik bening jatuh dari langit seharian ini. membawa basah, lembab, dan suhu yang tidak bersahabat.
langit abu-abu selalu tidak bersahabat, pikirku. menusuk daging hingga tulang, membuat ngilu semua hal yang awalnya baik-baik saja. membuat ingin tetap bergelung, hingga abu-abu kembali menjadi biru.
tapi langit bertahan dengan warnanya hari ini, hingga matahari menggelincir pergi. bisa dibayangkan suhu yang sudah tak bersahabat bertemu dengan kegelapan. menjadikan semuanya semakin tak menyenangkan.
hingga akhirnya tiba-tiba hangat merambat tubuh ini, lalu kemudian merambat hati. lebih dari jaket yang menyelimuti, lebih dari kaus kaki yang membungkus, dan lebih dari sarung tangan yang bergelung dengan jemari. terlebih lagi lebih dari sekedar pelukan mesra.
bukan karena hal istimewa, hanya hal sederhana. kecil namun mampu menjadi matahari saat langit abu-abu, saat matahari sebenarnya sudah pergi.
mendengar cerita sehari-hari, mendengar keluhan, dan mendengar idealisme menggebu. hanya mendengarkan dan menanggapi di tempat yang tepat.
bukan tentang seberapa dekat, namun tentang keberlanjutan untuk berbagi. bukan tentang cinta, tapi tentang kebutuhan untuk peduli. bukan tentang ingin bersama, tapi tentang melengkapi.
tak pernah ada yang istimewa, tak pernah ada emosi menggebu.
hanya kemampuan untuk duduk dan saling mendengarkan. hanya kemampuan untuk belajar berdansa.
membuat suhu yang menusuk, menjadi selimut tak kasat mata.
Wahai kekasih alam, tetaplah jadi penghangat.
genggam tanganku, dan ajari aku menari dalam hujan, Wahai jiwa-jiwa yang utuh.
tarik aku, ajari aku untuk tetap menjadi penghangat, wahai kekasih Tuhan.

*beruntungnya aku yang pernah menjadi penghangatmu

You May Also Like

1 comments