Dear Tuhan

by - March 19, 2012

Dear Tuhan,
Saya tidak ingin bertanya tentang surga dan neraka kali ini. Saya hanya ingin Engkau menyampaikan isi surat saya ini pada ibu saya.
Katakan padanya, bahwa saya merindukannya saat ini. Merindukannya besok dan besoknya lagi.
Saya begitu sedih saat beliau tidak ada di saat-saat penting saya setahun terakhir ini. Pada setiap moment bahagia maupun jatuh. Saya menjadi orang yang lebih cengeng akhir - akhir ini, menangis saat saya lega atau bahagia, dan menangis saat saya sakit atau jatuh. Bahkan akhirnya saya jadi susah membedakan mana tangisan sedih dan mana tangisan senang.
Ingin sekali saya menceritakan hari - hari saya kepadanya, seperti dulu. Menceritakan setiap detailnya, tanpa ada yang saya tutupi.
Ingin sekali saya menceritakan tentang perkembangan studi saya, bahwa saat ini saya sedang menyusun tugas akhir. Bahwa saya ingin menyebutkan namanya dalam lembar persembahan hasil akhir saya.
Ingin sekali saya menceritakan bahwa saat ini saya mengajar anak - anak di sela-sela waktu luang saya. Membantu mereka mengerjakan PR atau sekedar membuat mereka senang dengan kuis-kuis yang saya buat.
Saya juga ingin beliau tahu bahwa saat ini saya sedang senang-senangnya menulis, menjadi penulis skenario untuk proyek film indie, dan juga sedang membuat buku bersama beberapa teman.
Tuhan, katakan padanya, saya ingin dia ada saat saya berhasil melakukan apa pun yang saya lakukan.
Saya tidak sanggup lagi membayangkan apa yang akan saya hadapi di depan tanpa beliau disamping saya. Saya memang manja, tapi sungguh hanya beliau yang saya butuhkan.
Saya tidak sanggup membayangkan tentang ujian skripsi yang menanti saya di depan tanpa mendengar restu dan doa darinya.
Saya tidak sanggup membayangkan memakai kebaya dan toga tanpa mendengar pendapat darinya, tanpa ada foto dirinya di samping saya nanti.
Saya juga tidak sanggup membayangkan saat saya memakai kebaya, kemudian duduk disamping calon suami saya untuk mendengar pengikatan janji seumur hidup kami, tanpa ada beliau disamping saya. Jangankan hal itu, saya bahkan tidak sanggup membayangkan dia tidak mengenal calon suami saya sebelum kami menikah nanti.
Tuhan, saya tidak sanggup. Tuhan, katakan padanya, saya membutuhkannya.
Tuhan, saya merindukannya
Tuhan, saya ingin dia bahagia
Tuhan, saya juga ingin bahagia bersamanya
Tuhan, jika saya tidak berhasil menjaganya di dunia, saya mohon jaga dia di sisimu. Saya percaya, bahwa Engkau lebih mampu menjaganya dengan baik
Tuhan, katakan padanya, saya mencintainya.
Ibu, saya merindukanmu.
Ibu, kuatkan saya meskipun saya tidak bisa menggapai tanganmu lagi.

You May Also Like

0 comments