Langkah

by - February 15, 2012

Hei kawan, masih ingat kita pernah berbicara tentang langkah? Saat kamu membicarakan tentang mimpimu dan saat aku tersenyum di sela-sela ceritamu.
masih ingatkah saat kita menggenggam tangan masing-masing dan melangkah bersama? Saat aku mengamit mesra lenganmu, dan saat kamu menempelkan dagumu di puncak kepalaku sementara kedua tanganmu kau masukkan ke dalam saku celana.
Masih ingatkah saat kamu merebahkan diri di pangkuanku, dan perlahan tertidur saat aku membacakan salah satu puisi tentang cinta dan kematian? Saat itu jemarimu tak sedetikmu melepaskan jemariku. Menahanku untuk tetap di sana.
Hah, sudah berapa lama sejak terakhir kali kamu membangunkanku di sela-sela tidurku yang nyenyak? Hanya untuk mendengar cerita tentang hari-harimu. Dan, sudah berapa lama sejak kita sama-sama menikmati hujan dari kaca jendela kafe sembari minum kopi dan makan cheese cake dibumbui perdebatan sengit tentang hidup?
Masih ingatkah kamu saat perlahan kau melepaskan jemarimu dari genggamanku, lalu meninggalkan spasi yang tak berbekas, kemudian melangkah.
Aku masih ingat, derap langkahmu yang semakin lama semakin tak terdengar. Punggungmu yang semakin menjauh, menjadikan dirimu tak kasat mata seiring jarak yang melebar.
Suratmu yang pertama dan terakhir, mengabarkan kau baik-baik saja, sedang menjalani mimpi katamu. Tak lupa kamu menanyakan, bagaimana kabarku dan apakah aku menangis saat kamu mulai melangkah.
Aku tersenyum membacanya, kemudian menuliskan balasan.
'Aku baik-baik saja, malaikat menjagaku dengan baik. Jangan khawatir. Dan aku juga tidak menangis saat kau melangkah. Karena aku tahu, kau akan bahagia.
Masih ingat janjiku, bahwa ketika kau menengok ke belakang kau tak akan pernah menemukan aku lagi? Aku menepatinya bukan. Itu karena aku tahu kau yakin, bahwa aku akan bahagia.
Kalau kau merindukanku, ingat saja hal-hal sederhana yang indah di sekitarmu. Aku di sana'

You May Also Like

0 comments