Pesaing-ku (Quota Alief Sias)

by - January 20, 2012



Mas, saya kangen sama kamu. Apa kabarmu? Sehat kah? Baik-baik saja? Makanmu teratur?
Kapan ya terakhir kita ketemu? Waktu lebaran kemarin kah? Waktu keluarga kita berkumpul?
Ternyata masih tiga bulan kita tidak bertemu, tapi saya sudah kangen setengah mati sama kamu. Kangen ngerecoki kamu.
Mas, masih ingat saat kita saling curhat berdua di kamar kamu beberapa tahun yang lalu? Waktu itu kamu cerita banyak hal sambil utak-atik komputer, sementara saya tiduran di kasur kamu, menahan kantuk sebenarnya. Waktu itu kamu mau pergi ke Bandung untuk meraih mimpi. Masih ingat apa yang kamu ceritakan ke saya waktu itu? Saya masih ingat detail-nya loh. Dan saya ingat, itu pertama kalinya kamu menceritakan rahasiamu pada saya. Padahal sebelumnya kamu ngga pernah seterbuka itu sama saya. Rasanya saya mau nangis, ketika kamu mulai terbuka sama saya tapi kamu pun akan pergi jauh dari saya pada saat bersamaan.
Tapi Mas, saya bangga sama kamu. Kamu yang selalu berusaha keras untuk meraih mimpi, kamu yang ngga pernah lelah berlari, kamu yang menahan sakit saat berlari itu. Saya bangga sama kamu. Jujur saja, kamu salah satu pendorong saya untuk terus melangkah. Dan kamu salah satu alasan saya untuk berjuang.
Saya bangga, kamu sudah sampai sejauh ini. Tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah marah.
Tapi saya juga iri sama kamu. Kenapa? Karena rasanya Ibu lebih membanggakan kamu ketimbang saya. Memang sih kamu itu keponakan tersayang Ibu, dan selalu dibanggakan. Itu bikin saya iri setengah mati. Apalagi ketika kamu meraih nilai lebih tinggi dari saya di pelajaran matematika dan fisika yang saya benci itu. Ibu selalu bilang ke saya untuk rajin belajar seperti kamu, supaya bisa jadi juara di kelas, dan supaya bisa masuk universitas negeri. Rasanya saya pengen mukul kamu kalau kamu waktu itu.
Saya tahu, kamu orang yang langsung menangis begitu Ibu pergi. Karena saya tahu, kamu sangat mencintai Ibu, seperti kamu mencintai Mama. Dan saya tahu, kamu bakal berjanji pada diri kamu sendiri untuk menjaga saya setelah Ibu pergi, tanpa diminta oleh siapa pun. Karena saya tahu, kamu juga mencintai saya seperti kamu mencintai Alya.
Saya senang sekaligus terharu ketika kamu rela pindah kamar waktu saya mengunjungi kamu di Bandung bulan Juli lalu. Saya juga terharu kamu rela tidur di lantai yang dingin supaya saya tidur di kasur yang hangat. Dan saya percaya, bahwa kamu akan menjaga saya seumur hidupmu.
Saya juga senang ketika kencan sama kamu di Bandung, berasa kencan sama pacar sendiri (padahal saya ngga punya pacar). :D
Saya selalu merasa menang kalau jalan sama kamu. Karena saya bisa mematahkan hati banyak cewek yang suka sama kamu, tapi yang ngga pernah tahu hubungan kita. Kamu itu populer, hanya saja jarang nyadar kalau kamu sebenernya populer. :p
Mas, kamu nyadar ngga sih kalau selama ini kita bersaing? Hanya saja kita bersaing di jalan yang berbeda. Saya dan kamu memiliki mimpi yang berbeda, namun kita bersaing untuk menunjukkan siapa yang paling tepat dalam meraih mimpi kita masing-masing. Dan jujur saja, saya merasa masih ketinggalan jauh sama kamu. Dan sekali lagi, saya iri sama kamu. Tapi lihat saja nanti, saya akan buktikan ke kamu kalau mimpi saya itu tepat buat saya. Jadi jangan merasa menang dulu ya?!
Saya mencintai kamu, Mas. Kamu kakak terbaik yang saya miliki, tak akan pernah tergantikan. Kamu cowok paling ganteng setelah Ayah. Jadi, saya mempertimbangkan kamu buat jadi pendamping wisuda saya nanti, menggantikan Ibu.
Mas, janji sama saya ya... kalau kamu bisa menjalani mimpimu nanti, jangan pernah berhenti menjaga saya. Karena kamu salah satu penyangga saya.
Saya mencintai kamu, Mas.

You May Also Like

3 comments