Pendosa

by - January 06, 2012

"Bagimu aku adalah pendosa, yang meminum arak kehidupan dan mabuk akan puisi cinta"

Kau dan aku, memiliki dunia yang tak sama, meskipun bernafas dengan udara yang sama. Lagi-lagi tentang dunia, dunia yang cukup menjadi alasan bagiku untuk menilai bahwa kita berbeda.
Kau, dengan dunia para orang suci, menjauhi arak kehidupan dan menghindari puisi cinta. Aku, dengan dunia para pendosa, yang meminum arak kehidupan dan mabuk akan puisi cinta.
Duniamu memainkan peran dalam dunia warna kepentingan yang tak pernah ingin ku injak, hanya karena aku takut kehilangan rasionalitas dan rasa dalam jiwa. Duniaku memainkan peran dalam kehidupan warna warni duniawi, menyuguhkan segala macam asa dan penghiburan bagi pesakitan, menyuguhkan luka tanpa harus berbohong.

Aku mencoba bersahabat dengan duniamu, masuk ke dalamnya, namun tak terlalu dalam. Aku ingin tahu, aku ingin merasakan, dan aku ingin memahami, hingga aku bisa memandang segala hal dari sudut pandang yang berbeda. Tak menghakimi dan tak memaki. Aku bersahabat dengan para orang suci, hingga akhirnya aku terluka sendiri.
Hanya sebuah alasan sepele, namun entah mengapa membuatku begitu terluka. Aku merasa seperti orang asing dalam dunia yang mulai ku kenal dan ingin kujajaki. Aku mendapati kalian memiliki karakter yang sama dengan para pendosa, dimana kalian juga mabuk, hanya saja kalian begitu rapi menutupinya. Aku terluka ketika mendapati kalian 'menghujat' orang-orang yang menjadi lawan dalam lapangan permainan kalian. Aku kehilangan eksistensi makna orang suci yang selalu diagung-agungkan.

Aku merasa terasing, hingga akhirnya aku bersimpuh dengan darah dari luka yang aku timbulkan sendiri.

Aku melakukan penghakiman yang seharusnya tak pernah ku lakukan, dan aku menyesal melakukannya. Tapi tolong, tengoklah mengapa aku melakukan penghakiman itu? Mengapa aku berbalik menjauh? dan mengapa aku merasa terasing kemudian pergi?

Aku mengagumi kalian yang mampu mencintai tanpa dosa. Aku mengagumi perilaku kalian yang selalu jauh dari dosa. Mengagumi setiap tujuan mulia dalam setiap langkah yang kalian tapaki. Mengagumi setiap hasil atas perjuangan kalian. Tapi, ah, ternyata kalian juga manusia biasa, seperti aku. Hanya saja aku begitu muak dengan topeng yang kalian kenakan, dimana kalian menyembunyikan kemabukan tingkat tinggi daripada pendosa seperti kami. Dan kalian menyebut kejujuran cinta kami sebagai bagian dari zina yang tak pernah ingin kalian sentuh. Aku menemukan setiap langkah kalian berdasarkan pada tujuan atas identitas yang melekat, dan sering kali aku berpikir tidakkah kalian bisa melangkah dengan tujuan yang ikhlas tanpa identitas yang ada, melangkah sebagai makhluk Tuhan? Karena identitas yang melekat mengaburkan segala tujuan mulia itu bagi kami, para pendosa.

Aku memaknai cinta sebagai sesuatu yang diberikan tanpa syarat, dilakukan dengan tulus dan ikhlas, dan mampu berkorban. Aku memaknai cinta tanpa dosa sebagai sesuatu yang sakral dan tak pernah ada nafsu dan zina didalamnya. Oleh karena itu aku dan para pendosa mampu memilah antara keinginan untuk memiliki dan keinginan untuk memberi, bersikap jujur adalah salah satu cara kami untuk membedakan kedua hal itu. Aku menikmati setiap cinta yang ku berikan pada sahabat-sahabatku, memberikan segala yang aku miliki kepada mereka tanpa syarat, dan tanpa prasangka.

Aku dan kalian memiliki Tuhan yang sama dan menyembah dengan cara yang sama. Mungkin yang membedakan adalah cara aku dan kalian dalam mencintai Tuhan. Aku mencintai Tuhan dengan cara mencinta sesama dengan jujur, melangkah di jalannya dengan jujur, dan mencapai tujuannya tanpa identitas yang mengikat, hanya aku, sebagai makhluk Tuhan. 

Aku mencintai kalian, hingga aku tak peduli jika dianggap sebagai pendosa. Dan aku tak lagi peduli jika kalian menjauh, atau mungkin aku yang akan pergi sebelum terusir dari dunia kalian. Aku masih mencintai kalian, berharap mampu memahami mengapa aku bersikap begitu defensif terhadap kalian akhir-akhir ini. Aku tak meminta kalian memasuki duniaku, tak juga meminta kalian menengoknya. Aku masih ingin terus menghormati dan menghargai yang kalian pilih, hingga aku tak lagi bernafas. Aku masih ingin mencintai kalian, hingga tubuhku hancur bersama tanah. 


You May Also Like

0 comments