Pelangi (Primadiana Yunita, @nitanitung)

by - January 11, 2012


Masih ingat, tulisanmu tentang saya beberapa waktu yang lalu? Tulisan yang indah dan jujur saja membuat saya sangat terharu. Membuat saya beruntung memiliki sahabat seperti dirimu.
Sekarang, saya pun ingin menulis tentangmu. Dan, tentu saja tentang kita.

Saya tak akan menuliskan lagi bagaimana kita bertemu, atau bagaimana kita menjadi dekat. Kamu sudah menuliskannya, lagi pula itu menjadi tak penting untuk saat ini. Yang penting adalah, kita pada waktu ini.
Kamu tahu, tung, apa arti kamu bagi saya? Kamu itu pelangi bagi saya.

Kamu yang dengan sabarnya mendengarkan setiap keluh kesah saya, setiap kebahagian saya, dan setiap kemarahan saya. Saya begitu kagum dengan kemampuanmu mendengar dan kemampuanmu merangkai kata untuk menimpali setiap ocehan saya. Saya yakin, kamu masih ingat betul setiap detail cerita yang saya sampaikan ke kamu hingga saat ini. Terima kasih karena telah mendengarkan.

Kamu yang dengan sabarnya, tak pernah lelah mengingatkan saya bahwa cinta itu ada. Bahwa cinta itu harus dinikmati, bahwa cinta itu anugerah. Saya masih ingat betul ketika kamu sangat geram setiap kali saya bertanya tentang alasan mencintai dan dicintai. Saya juga masih ingat ketika kamu menggelengkan kepala berkali-kali saat saya dengan skeptisnya menolak rasa cinta yang datang dari seorang laki-laki, hanya karena saya takut terluka lagi. Sebenarnya lucu sekali melihatmu yang berusaha mati-matian meyakinkanku bahwa aku layak mendapatkan cinta dan sesungguhnya tak perlu alasan untuk mencintai.

"Setiap pertanyaan itu belum tentu perlu dijawab, karena memang sudah ada jawabannya, dan memang tak perlu dipertanyakan"
"Semua hal itu tak selalu memiliki alasan"
Itu yang selalu kamu katakan pada saya. Saya mengingatnya dengan baik dan berusaha meyakininya. Kamu masih sabar menunggu kan?

Kamu yang selalu ceria di hadapan saya, tanpa kamu sadari semangatmu itu selalu menular pada saya. Kamu yang selalu memiliki pikiran positif, sedikit banyak mempengaruhi pemikirian saya juga. Kamu yang selalu tulus dalam melakukan setiap hal, mengingatkan saya akan Tuhan yang juga selalu tulus mendampingi setiap makhluknya. Bagi saya, kamu memiliki perilaku Tuhan itu.

Kamu yang sedikit banyak selalu sepemikiran dengan saya tentang kehidupan kampus, tentang politik yang berseliweran di sekeliling kita. Kita selalu berpendapat bahwa jangan terlalu serius menanggapi politik kampus, daripada merasakan sakit hati yang tidak jelas. Saya masih meyakini itu loh, Tung.

Terima kasih telah menjadi fans atas karya yang mulai saya bangun. Terima kasih atas kritikan yang kamu berikan pada setiap karya yang saya buat. Terima kasih telah setia menunggu karya-karya saya. Terima kasih telah mendukung langkah yang saya ambil tentang karya saya, saya kagum atas dukungan kamu yang tak pernah berhenti dan tak pernah lelah.

Dan yang paling penting, terima kasih telah memahami dunia saya. Sekali lagi, saya beruntung memiliki kamu. Kamu yang mau mampir di dunia saya, ketika orang lain tak ingin mampir atau hanya sekedar menengok. Kamu yang mau merasakan dunia saya ketika saya sendiri pun tak yakin dengan apa yang saya pilih. Terima kasih telah meyakinkan saya bahwa dunia yang saya pilih tidak salah.

Kamu pelangi bagi saya, Tung. Warna bagi dunia saya yang selalu saya bilang hanya ada hitam dan putih saja. Kamu pelangi bagi saya, dan akan selalu menjadi pelangi.

You May Also Like

0 comments