Berdamai Denganmu

by - January 15, 2012


Duniaku luas, tapi sempit. Itu katamu.
Aku hanya tertawa, mengiyakan apa yang kau katakan. Tak mengingkari atau membantah. Karena aku pun merasa begitu.
Sayang sekali kamu tak pernah menanyakan mengapa duniaku memiliki tempat sempat itu, tempat yang seharusnya tak pernah ada di dunia yang ideal.
Tempat sempit yang tak pernah kamu miliki, hanya aku yang punya tempat sempit itu. Hanya aku.
Tempat sempit itu menyembunyikan lukaku, luka yang kau sebut berbau fisik, tapi nyatanya lebih dari sekedar fisik. Luka yang menggerogoti aku perlahan.
Kau tak pernah menanyakannya. 
Kau bilang runtuhkan tembok itu, berani mencintai setiap hal yang bisa membuat luka itu menganga lebih lebar. Hingga aku tahu dimana harus menyembuhkannya. Dimana aku bisa mencintainya dengan lebih luas.
Seperti hujan yang selalu ku benci, ku benci karena selalu membuatku sakit saat harus berhadapan dengannya. Mencintai hujan sama dengan mencintai setiap sakit yang mampir, setiap sesak yang menusuk dada.
Dan kau pun tak pernah menanyakan mengapa tembok itu masih berdiri kokoh dan mengapa hujan selalu membuatku sakit. Ah tidak, aku salah, kau pernah menanyakannya, dan aku menjawabnya dengan kata2 metafora yang bahkan tak penah kau mengerti.
Tak apa-apa, itu tak penting sekarang. Karena aku mulai berdamai dengan perbedaan, karena aku mulai berdamai dengan dunia dua dimensi yang kau miliki.
Aku harus bisa berdamai dengan semua hal, seperti katamu. Supaya aku bisa berdamai dengan kehidupan. Supaya aku bisa mengobati sayapku ketika aku jatuh dari dunia imajinasi tempatku hidup saat ini ke dunia penuh realitas tempatmu dan yang lain berada.
Ya, aku mencoba berdamai.
Pertama berdamai dengan diriku, kemudian dengan kamu. 

You May Also Like

0 comments