Not How Close, But Continuity

by - December 28, 2011

How Close. Tentang seberapa dekat. Dekat memang, seperti menyatu dengan darah, seperti menyatu dengan nadi.
Mendengarkan dan didengarkan, memahami dan dipahami, membutuhkan dan dibutuhkan.
Jantungku dan jantungmu, berdetak dengan irama yang sama dan interval yang sama.
Mengingatkan tentang kontinuitas. Kesinambungan.
Seperti detak jantung, selalu ada dan berkesinambungan. Tetap pada interval yanig sama.
Namun jika suatu hari tidak seperti itu, bukankah rasa sakit yang ada?
Ya, saat ini jantungku tidak berdetak pada intervalnya. Aku tak pernah tahu terlalu cepat atau terlalu lambat.
Ah, aku tak pernah sempat mengetahuinya. Hanya saja tiba-tiba aku terkejut dan merasa sakit.
Apa kau juga merasa begitu, saat jeda itu terbentuk, saat spasi itu tiba-tiba melebar.
Aku dan kau ibarat arsitek dalam sebuah robot kehidupan. Mengatur segalanya.
Hanya saja aku tak pernah benar-benar tahu, apakah aku arsitek utama atau hanya asisten arsitek bagimu.
Aku masih mencari cara menjaga jantung ini tetap berdetak pada irama dan intervalnya, mengalirkan darah yang volumenya sama pada nadi, mengalirkan oksigen yang sama pada paru-paru dan otak, agar aku tak perlu sakit lagi saat kau membentuk sesuatu yang tak pernah ada dan membuatku terkejut.
Kontinuitas, nyatanya itu yang aku butuhkan. Membentuk suatu kesinambungan dalam proyek kehidupan kita. Supaya jantungku benar-benar tak berhenti berdetak.

You May Also Like

0 comments