Kehilangan

by - October 28, 2010

Aku tak pernah tahu akan menulis apa untuk tentang hal ini. Terlalu banyak hal yang ingin ku bagi tetapi juga terlalu banyak hal yang ingin ku simpan sendiri. Terlebih lagi terlalu banyak kesakitan yang aku rasakan jika membicarakan mengenai hal ini. Ah, tapi lupakan saja, toh aku juga menulisnya saat ini untuk kalian baca.

Aku baru saja kehilangan orang yang sangat, sangat, sangat, dan sangat berarti dalam hidupku.
Ibu...
Ibu...
Ibu...
Aku kehilangan ibuku...
Kematian memisahkan kami, kuasa Tuhan memisahkan kami.
Ibu yang selalu berada disampingku
Ibu yang menjadi kekuatanku
Ibu yang menjadi tempatku bersandar.
Ibu yang selalu membuatku memiliki alasan untuk pulang dan untuk mengabdi

Kini beliau telah pergi, menghadap sang Illah. Berjumpa dengan penciptanya.

Pada dasarnya semua manusia juga akan mengalami kematian. Berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, meninggalkan segala yang ia punya di dunia.
Ibuku meninggalkan kami (secara fisik), meninggalkan kami bersama kenangan-kenangan yang tak bisa dilupakan atau dihapus begitu saja. Ibuku meninggalkan cintanya untuk kami, dan entah kenapa aku tahu bahwa cinta itu tidak akan berhenti begitu saja. Karena pada saat aku senang aku selalu menyebut beliau, ketika sedihpun aku masih menyebut nama beliau. Seakan aku ingin beliau tahu, seakan aku ingin beliau mengerti, seakan aku ingin dipeluk.

Ibuku menderita kanker paru-paru selama setahun, beliau bertahan dan berjuang hingga akhir hanya demi kami.
"Mbak, kamu yang pinter ya," kata ibuku pada suatu sore, "Ikhlaskan Ibu," dua hari sebelum beliau benar-benar pergi. Aku hanya bisa mengangguk mendengarnya, menahan air mata supaya ibu tidak sedih melihatnya.
Hingga akhirnya ibu pergi.
Tak ada air mata, tak ada teriakan, dan tak ada penyesalan.
yang ada hanyalah rasa lega.
Lega karena ibu tidak perlu lagi menderita
Lega karena tahu bahwa ibu berada di tempat yang lebih baik
Lega karena aku tahu bahwa Allah SWT menyayanginnya
Karena aku diajarkan ikhlas
Karena aku diajarkan bersabar
Karena aku diajarkan bersyukur
"Ikhlas, sabar, dan bersyukur adalah kunci menjalani hidup" kata Ibu
Ibu meninggalkanku dengan tanggung jawab besar
mengurus, mendidik, dan membimbing adik perempuan yang beranjak dewasa
mengurus keperluan rumah seperti yang dilakukannya dulu
memastikan Ayah untuk menjalankan tugasnya tanpa rasa khawatir
dan pada akhirnya aku tahu Ibu meninggalkan aku karena aku dirasa sudah dewasa dan mampu melakukan segala yang pernah dilakukannya di dunia
Aku menemukan bahwa diriku telah dewasa

Ibu...
Ibu....
Ibu....
aku ingin kau bahagia disana
aku ingin kau tahu bahwa kami baik-baik saja
aku ingin kau menikmati hidupmu disana, setelah semua yang kau lakukan untuk kami
dan aku ingin tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu
bahwa aku benar-benar berterima kasih padamu tetang semua yang kau ajarkan padaku mengenai kehidupan
Ibu, sampaikan salamku padaNya... sampaikan terima kasihku padaNya karena telah mengizinkan aku bertemu denganmu
Ibu...
aku ingin seperti dirimu
menjadi luar biasa seperti dirimu
Ibu...
Ibu...
Ibu...
aku mencintaimu

You May Also Like

0 comments