Kita Begitu Berbeda Kecuali Dalam Cinta

by - August 14, 2010


“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah pandalawangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?” (Soe Hok Gie)

penggalan puisi di atas ditulis oleh salah satu penulis dan aktivis mahasiswa favorit saya. Saya sangat menyukai Gie bukan karena pemikirannya tentang politik dan protesnya terhadap bobroknya negeri ini. Tapi saya menyukai caranya mengungkapkan pemikirannya melalui kata-kata, saya menyukai sisi romantis dari Gie sehingga dia mampu menuliskan karya-karya indah untuk saya baca. Salah satunya adalah yang ada di atas, tapi banyak yang menuliskan judulnya adalah Cinta Lembah Pandalawangi.
Ada satu bait dalam puisinya yang menginspirasi saya untuk menulis dalam blog ini.

"Kita begitu berbeda kecuali dalam cinta,"

Ya, bait inilah yang menginspirasi saya. Mengenai cinta.
Saya pernah menulis mengenai makna cinta bagi saya melalui salah satu cerpen otodidak buatan saya. Saya memaknai cinta secara universal, di mana cinta tidak terbatas pada perasaan sepasang manusia saja (laki-laki dan perempuan) tetapi saya memaknai cinta secara lebih luas terhadap semua makhluk hidup. Cinta kepada orang tua, Cinta kepada sahabat, Cinta kepada guru, Cinta kepada hewan peliharaan, Cinta kepada kekasih, dan Cinta kepada Illah. Ketika saya mengemukakan hal ini tentu saja banyak pro dan kontra yang datang dari teman-teman (hahahahahaha), tapi mau bagaimana lagi begitulah adanya pemikiran saya.
Tuhan menciptakan manusia secara berbeda, Dia memberikan manusia anugerah yang berbeda setiap individunya sehingga satu manusia dan manusia lain selalu berbeda dan unik. Tidak ada manusia yang sama meskipun dilahirkan kembar identik.

"Kita begitu berbeda kecuali dalam cinta"

Perbedaan yang dimiliki manusia adalah anugerah bagi manusia itu sendiri. Bayangkan saja jika manusia diciptakan sama (wajah sama, karakter sama, dan rejeki yang porsinya sama), Wah benar-benar menakutkan! Untuk itulah kita berteman, mencintai, dan membenci orang yang berbeda karakter dengan kita yang membuat hidup kita berwarna.
Ada masa dalam kehidupan saya yang selalu mempertanyakan; mengapa orang berbuat begitu, mengapa mereka tidak berbuat seperti ini, mengapa mereka berpikiran begitu, dan mengapa mereka tidak melakukan ini. Dan ada pula masa dalam kehidupan saya yang selalu mengatakan; bukankah sebaiknya melakukan ini, jika memakai caraku maka pasti berhasil, kau bodoh sekali melakukan hal itu.
Seiring dengan waktu dan kedewasaan diri akhirnya aku menyadari bahwa setiap manusia berbeda. Memiliki pemikiran berbeda dan menjalani kehidupan berbeda. Kesadaran mengenai perbedaan ini semakin diperkuat ketika aku membaca sebuah buku yang berjudul TO KILL A MOCKINGBIRD karya HARPER LEE. Ada suatu kalimat yang memperjelas bahwa perbedaan itu selalu ada dalam setiap aspek kehidupan, dan kalimat ini menurutku sangat, sangat, dan sangat bijak.

"Kau tidak akan pernah mengenal seseorang secara mendalam kecuali kau masuk ke dalam kulitnya dan menjalani kehidupan yang sama seperti dia"

Tapi ada satu hal yang sama diantara kita semua, yang menciptakan keharmonisan dalam hidup dan menciptakan warna tersendiri dalam hidup. Yakni Cinta.
Setiap manusia memiliki perasaan yang sama yakni Cinta. Cinta membuat orang merasa simpati kepada penderitaan orang lain. Cinta membuat orang merasa senang atas kesenangan orang lain. Cinta mampu membuat orang menjadi dermawan. Dan cinta juga mampu membuat orang berbuat jahat, memiliki rasa iri, dan memiliki rasa sombong.
Mungkin kita bisa hidup tanpa makanan seharian, tapi kita tidak bisa hidup tanpa cinta selama satu jam. Bayangkan saja jika kau tidak memiliki teman dalam hidupmu, tidak memiliki orang tua, tidak memiliki sahabat, dan tidak memiliki orang terkasih. Maka tentu saja kau akan merasa tidak makan selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun.
Untuk itulah Tuhan menciptakan cinta. Supaya kita peduli terhadap orang lain dan supaya kita peduli dengan lingkungan kita. Cinta kepada negara adalah kemauan untuk bersama-sama membangun negara agar lebih baik. Cinta kepada orang tuan adalah kemauan untuk membalas cinta yang mereka berikan. Cinta kepada sahabat adalah kemauan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik secara bersama-sama. Cinta kepada guru atau dosen atau atasan adalah kemauan untuk belajar kepada orang yang lebih ahli dan berpengalaman di suatu bidang. Dan Cinta kepada lawan jenis adalah kemauan untuk menghargai dan menghormati pebedaan itu sendiri. Cinta kepada Illah adalah kemauan untuk mengabdi kepada sang Pemberi Kehidupan dan Perbedaan.

"Kita begitu berbeda kecuali dalam cinta"

Lalu, pertanyaannya adalah, apakah pernah terpikirkan untuk membunuh Cinta? Jika iya, bagaimana kau akan membunuh Cinta jika ia tetap ada meskipun kau membenci dan jika perang atau konflik berkecamuk?

You May Also Like

0 comments