Kepemimpinan Nasional vs Kepentingan Amerika

by - January 09, 2010

Sejak peristiwa 9/11, Amerika menyerukan perang melawan terorisme yang puncaknya adalah Amerika menyerang beberapa negara di Timur Tengah, Afghanistan dan Irak, yang dianggap sebagai ‘sarang teroris’. Amerika menggalang dukungan dari berbagai negara termasuk Indonesia.
Pada masa pemerintahan Megawati, Indonesia menolak untuk mendukung Amerika untuk melakukan penyerangan terhadap Irak dan Afghanistan. Sementara Indonesia juga menggalang dukungan dari negara-negara Arab dan Afrika untuk menolak rencana Amerika tersebut. Pada masa pemerintahan Yudhoyono, tekanan Amerika untuk meminta Indonesia turut serta dalam penyerangan tersebut tidak surut. Namun Indonesia tetap menolak, karena saat Yudhoyono terpilih tidak lepas dari dukungan beberapa partai islam di DPR. SBY harus bisa meyakinkan mereka bahwa kebijakan luar negerinya dalam isu terorisme tetap memperhitungkan aspirasi konsisten Islam di dalam negeri (Aleksius Jemadu, 2008:180). Indonesia perlu meminta jaminan Amerika bahwa yang mereka perangi adalah para pelaku yang melakukan kekerasan atas nama agama, bukan memerangi suatu agama tertentu. Selain itu gaya kepemimpinan Yudhoyono yang percaya diri dan baik dalam pencitraan diri dapat meyakinkan para pemimpin dunia barat untuk mengimbangi perang melawan teroris dengan kebijakan yang serius dan adil untuk kepentingan umat Islam di Indonesia.
Dominasi global Amerika semakin kuat saat mereka mencetuskan perang terhadap teroris. Mereka kini tidak hanya mendominasi dalam hal ekonomi, politik, dan sosial, tetapi juga mulai mendominasi mengenai keamanan internasional. Karakter Bush yang kuat mencetuskan prinsipnya yaitu, “You are with us or against us” (Sapto Waluyo, 2009: 85). Dominasi Amerika yang semakin kuat ini membuat suatu input dalam sistem politik Indonesia dalam menentukan kebijakan melawan terorisme. Dominasi Amerika yang tertuang dalam kepentingan Amerika, merupakan penekan bagi pemerintah untuk berhati-hati dalam menentukan kebijakan. Karena hal tersebut tidak hanya mempengaruhi Indonesia secara langsung tetapi mempengaruhi negara lain yang pada akhirnya juga mempengaruhi Indonesia dalam menjalankan hubungannya dengan negara lain tersebut.
Hal baik yang dapat diambil dalam hal ini Amerika dan Indonesia tidak bisa saling mengitimidasi. Karena masing-masing dari kedua negara memiliki kepentingan masing-masing. Amerika memiliki kepentingan di Indonesia mengenai kontrak Freeport dan beberapa kepentingan politis lain, sedangkan Indonesia juga memerlukan pemasukan dana dari Amerika melalui pajak Freeport dan bantuan-bantuan lainnya. Untuk itu Amerika tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada Indonesia meskipun Indonesia adalah negara yang tidak sebesar Amerika. Kepemimpinan Yudhoyono mampu membuat Amerika untuk lebih respect kepada Indonesia dengan cara yang lebih halus dan tidak memaksakan seperti periode kepemimpinan sebelumnya.
Indonesia memiliki wilayah yang strategis dalam hal geopolitik dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Jadi langkah-langkah yang dilakukan Indonesia dalam memberantas terorisme pastinya akan mendapat sorotan dari wilayah regional maupun global. Langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia haruslah dapat melindungi kepentingan Amerika maupun kepentingan negara-negara lain yang ada di Indonesia, namun juga harus melindungi segala aspek yang ada di Indonesia yang paling penting yaitu keselamatan warga negara. Dalam hal ini Yudhoyono tidak menjadi pelayan Amerika untuk memberantas terorisme, meskipun dalam hal ekonomi dan politik beliau memiliki ideology yang hampir sama dengan Amerika yaitu neoliberalisme, Yudhoyono tetap menjalankan kepemimpinannya yang tetap melindungi kepentingan umat Islam di dalam negeri.

You May Also Like

0 comments